Facebook

Friday, 20 February 2015

Coklat Ndalem Jogjakarta : Meika Hazim dan Wednes Aria Yudha


Bisnis cokelat sudah menjamur di mana-mana, mulai dari yang skala rumahan sampai korporasi besar. Maklum, Indonesia produsen kakao terbesar ketiga di dunia. Selain itu, penikmat cokelat di negeri ini sangatlah banyak, dari anak-anak sampai orang dewasa. Itu sebabnya, pemain cokelat kini bejibun.
Coklat Ndalem Jogjakarta : Meika Hazim dan Wednes Aria Yudha
Creative common image by Swa

Salah satunya adalah pasangan suami-istri Meika Hazim dan Wednes Aria Yudha. Pada 1 Maret 2013 mereka membesut bisnis cokelat dengan mengusung merek Cokelat nDalem.
Seperti yang lain, sejak awal Coklat nDalem memang diposisikan sebagai oleh-oleh khas dari Kota Yogyakarta. Dibandingkan dengan produk cokelat yang ada di pasaran, Cokelat nDalem memiliki keunikan. Bukan hanya dari segi rasa, tetapi setiap kemasannya pun didesain secara apik serta memiliki cerita tentang budaya yang tumbuh dan berkembang di Yogya, Jawa dan Indonesia.

Menurut Meika, cokelat tak sekadar bisnis. Namun, ada idealisme yang tertaman di dalamnya. Lewat cokelat, ia ingin mewujudkan kecintaannya pada negeri Indonesia. Ia berusaha mempersembahkan cokelat yang mengangkat keunikan citarasa Indonesia yang tidak dimiliki negara lain. Keindonesiaan Cokelat nDalem ia wujudkan pada rasa cokelat yang sengaja dipilih yang mempunyai benang merah dengan budaya Indonesia, dengan kemasan yang didekorasi dengan cerita khas Indonesia.

Untuk melengkapi ilustrasi cerita tentang Indonesia, pada bagian belakang kemasan cokelatnya selalu dijelaskan tentang arti setiap ilustrasi yang ditulis ke dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. “Kami berharap agar cerita tentang budaya Indonesia ini makin banyak yang bisa menerimanya,” ujar Meika.

Nilai pembeda inilah yang menarik minat para pelancong yang datang ke Kota Gudeg untuk mencicipi lezatnya Cokelat nDalem. Gerai Cokelat nDalem di Yogya saat ini sudah ada di jalan Kauman, Seturan, dan juga bisa didapatkan di belasan toko cenderamata di kota ini. Di luar Yogya, ada di KemChick’s Pasific Place, Jakarta.

Sekarang Cokelat nDalem mempunyai 18 rasa yang dibagi dalam lima lini rasa. Setiap lini rasa minimal memiliki tiga varian rasa. Kelima lini rasa tersebut: (1) Klasik (Dark, Extra Dark, Less Sugar Dark Chocolate) yang menggunakan kemasan motif batik pernikahan ala Yogya; (2) Pedas (Cabai, Jahe dan Mint) dengan kemasan dekorasi wayang kartun Bima, Wisanggeni dan Gathotkaca yang punya kesamaan karakter “pedas” di telinga jika berbicara.; (3) Rempahnesia (Cengkeh, Sereh dan Kayumanis) dengan dekorasi kemasan bergambar Bregada (prajurit) Keraton Yogyakarta; (4) Wedangan (Wedang Ronde, Wedang Uwuh dan Wedang Bajigur) yang berdekorasi landmark terkenal di Yogya di mana wedang-wedang tersebut bisa diperoleh. antara lain Alun-alun Utara, Alun-alun Selatan dan Imogiri; (5) Kopinesia, yaitu perpaduan cokelat dengan isian biji kopi Arabica yang diambil dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia seperti Gayo Aceh, Merapi Jogja, Kintamani Bali, Bajawa Flores, Kalosi Toraja dan Wamena Papua. Lini rasa Kopinesia didekorasi dengan ilustrasi tarian daerah dari mana kopi tersebut berasal.

Melihat penampilannya, Cokelat nDalem memang dikonsep secara matang. Kedua penciptanya memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang cukup kaya di dunia pariwisata. Meika adalah MBA alumni Universitas Gadjah Mada, sedangkan sang suami, Wednes, sarjana teknologi pengolahan pangan dari universitas yang sama.

Meika mengatakan, Cokelat nDalem merupakan bagian dari ekpresi kecintaannya kepada Indonesia. Ia mendapat ide pembuatan cokelat tersebut karena sering jalan-jalan ke luar negeri setelah dinobatkan sebagai Diajeng Jogja tahun 2005. Selama berkunjung ke beberapa negara tersebut, ia mendapatkan pengalaman yang menarik: di sana pariwisata sudah dikemas sedemikian bagusnya. Cerita tentang destinasi wisata juga menjadi produk aneka cenderamata, baik kerajinan maupun makanan khas. Dari sinilah, ia mulai mencari ide bagaimana memunculkan produk oleh-oleh khas Yogyakarta dengan konsep seperti yang pernah dilihatnya di luar negeri.

Pada awal 2013 Meika pun resmi mengundurkan dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia sudah mantap ingin pindah kuadran dengan menjadi entrepreneur. Sang suami yang selama ini bergerak dalam bisnis jasa agen perjalanan wisata menyambut gembira. Mereka membuat konsep bersama dan mendirikan CV nDalem Mulyo Mandiri untuk menjalankan bisnis cokelatnya.

Bagi Meika, bagaimana memasarkan produknya bukan masalah. Selain pendidikan yang memadai, ia pun berpengalaman menangani pemasaran di beberapa perusahaan, salah satunya kaus Dagadu Djogja. “Saya pernah kerja di garda depan Dagagu Djogja,” katanya.

Dengan modal tabungan sebanyak Rp 40 juta, mulailah keduanya menjalankan bisnis cokelat. Cokelat menjadi pilihan karena dari berbagai literatur yang dibaca Meika, Indonesia merupakan produsen cokelat terbesar ketiga di dunia. “Namun kenyataannya, kita belum banyak memiliki industri pengolahan cokelat,” ungkap kelahiran 18 Mei 1982 ini.

Agar mudah dikenal, Cokelat nDalem dipromosikan melalui media online (media sosial dan website) ataupun offline dengan mengikuti berbagai pameran di dalam Kota Yogya, luar kota, bahkan luar negeri. “Tahun 2013, kami berkesempatan mengikuti pameran di Hong Kong dan Malaysia. Maret tahun ini, kami telah mengikuti pameran di Jepang,” ujarnya bangga.

Meika memiliki impian mengembangkan cerita cokelat Indonesia ini dalam bentuk museum kecil. Di situ setiap pengunjung akan mendapatkan informasi tentang sejarah cokelat Indonesia dan perkembangannya sampai sekarang. Pengunjung bisa pula mempelajari proses pembuatan cokelat ala Cokelat nDalem. ”Kami masih menabung untuk membangun museum tersebut,” ungkap Meika optimistis.


Dalam pandangan pengamat bisnis dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Nur Feriyanto, bisnis oleh-oleh memiliki prospek yang cerah di Yogyakarta. Itu sebabnya, ia melihat Cokelat nDalem punya potensi berkembang. Pengajar MM UII ini melihat ceruk pasar cokelat untuk oleh-oleh di kota ini masih cukup besar. Kini memang sudah ada beberapa pemain yang masuk, tetapi pasar produk ini masih terbilang blue ocean. Hanya saja, untuk bisa diterima pasar harus memiliki keunggulan, bukan hanya dari sisi rasa tetapi juga kemasan.“Saya melihat owner Cokelat nDalem sudah memahami marketing,” kata Nur menilai.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)