Facebook

Saturday, 21 February 2015

Anantya van Bronckhorst dan Ramya Prajna Sahisnu Founder Think.Web


Pada Agustus lalu Acer Indonesia mendapat penghargaan The Most Devoted Brand dari perusahaan analisis digital dan media sosial global, Socialbakers. Nah, keberhasilan Acer itu ternyata tidak lepas dari hasil pekerjaan Think.Web (www.think.web.id) – perusahaan agensi digital yang dibesut dua anak muda: Anantya van Bronckhorst dan Ramya Prajna Sahisnu.

Selain Acer, ada sejumlah merek lain yang memercayakan layanan komunikasi digitalnya kepada Think.Web. Di antaranya: Clear, Aqua, Maybelline, Clear&Clean, Bank Danamon, Hewlett-Packard, Taksi Express, CIMB Niaga, LippoBank, A Mild, Bayer, Rinso, dan banyak lagi.

Anantya van Bronckhorst dan Ramya Prajna Sahisnu Founder Think.Web
Creative common image by swa

Saat ini, Think.Web merupakan salah satu agensi digital cukup ternama di Tanah Air – selain Semut Api Colony yang tergabung dalam Grup Jarum. Pada 2011, Think.Web mengklaim mampu membukukan pendapatan lebih dari US$ 1 juta. “Think.Web bukan sekadar mengembangkanweb, tapi memberikan solusi komunikasi dan pemasaran digital bagi perusahaan,” ujar Anantya, co-founderdanco-CEOThink.Web.

Think.Web dibentuk pada 2006. Awalnya, Anantya dan Ramya sama-sama bekerja di DBB Vertigo – perusahaan agensi periklanan dan rumah produksi. “Ketika itu, kami diberi target bisa menghasilkan Rp 400 juta dalam setahun. Ternyata bisa,” ujar wanita kelahiran 23 November 1979, yang akrab disapa Anan ini dengan bangga.

Seiring pesatnya perkembangan Internet, mereka pun diberi kewenangan mengembangkan divisi Web. Sayangnya, divisi itu kurang mendapat perhatian penuh dari pemilik perusahaan, karena lebih fokus ke unit event dan acara televisi. “Kami pikir, bisnis ini tidak akan berkembang jika hanya di bawah suatu divisi. Kalau pun berkembang, tidak akan sepesat yang diharapkan jika kurang diperhatikan,” ujar alumni Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Indonesia ini.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengembangkan bisnis agensi digital sendiri dengan nama Think.Web. Namun persoalannya, mereka tidak punya dana untuk merealisasi ide tersebut. Lalu, mereka menawarkan proposal bisnisnya ke salah seorang pemilik Vertigo. Ternyata, mantan bosnya mau mendanai, dengan kesepakatan ia akan menjadi salah satu pemilik Think.Web. 

Oleh karena itu, awalnya (2006) Think.Web berada di bawah payung DBB Vertigo (ISBG Indonesia). Namun pada April 2007, Think.Web sudah terpisah di bawah bendera PT Thinksmart Ide Brajendra. Kini, shareholder Think.Web berjumlah 6 orang.

Anantya van Bronckhorst dan Ramya Prajna Sahisnu Founder Think.Web
Creative common image by Swa

Menurut Anan, awalnya Think Web sepertiweb developer karena di dalamnya hanya terdapat desainer, programmer, penulis konten, tenaga penjual, dan strategist. Akan tetapi, lantaran perkembangan dunia Internet dan mobile yang dipicu oleh media sosial, usahanya dimekarkan. Pada 2008, fase awal booming-nya media sosial, Think.Web juga membangun divisi media sosial. Dan saat ini, Think.Web telah memiliki beberapa divisi: Analitis, Penjualan, Strategist, Media Sosial, Produksi(aplikasi,website,games), Manajemen Proyek, dan Promosi.

Diklaim Anan, dibanding perusahaan sejenis lainnya, salah satu kekuatan Think.Web adalah memiliki tool analitis – di dalamnya termasuk reporting dan listening tool untuk laporan ke klien. Bahkan, diklaimnya, Think.Web perusahaan pertama di Indonesia yang merupakan Google Analytics Certified Partner. 

“Kami bisa melakukan pengukuran atas dinamika proses produksi yang terjadi,” ujar Anan. Contohnya, ketika melakukan placement konten untuk promosi, kami menggunakan analytic tool untuk mengetahui hasil placement itu. Dengan begitu, ketika membuat perencanaan tiga bulanan untuk promosi ke klien, kami dapat memberikan saran kepada klien mengenai hasil analisis placement promosi sebelumnya,” ia menambahkan.

Tampaknya kemampuan seperti itu yang membuat Think.Web mendapat banyak rekomendasi (efek word of mouth marketing). Bahkan, ada sebuah perusahaan yang memiliki beberapa produk, menyerahkan semua komunikasi digital atas beberapa mereknya kepada Think.Web. Anan mengklaim, tak jarang pula terjadi reorder untuk tiap kegiatan yang berbeda, seperti yang dilakukan Sampoerna untuk mempromosikan berbagai digital event A Mild.

Alhasil, bisnis Think.Web terus tumbuh. Diklaim Anan, sejak 2007 hingga 2010, rata-rata peningkatan pertumbuhan pendapatan tahunan Think.Web 70%. Bahkan, pada 2010-2011, pertumbuhannya mencapai 120% dengan nilai omset melebihi US$ 1 juta.

Anan sangat optimistis dengan potensi perkembangan usahanya. Pasalnya, bisnis digital merupakan industri yang dinamis dan perkembangannya sangat cepat. Maka, struktur organisasi Think.Web juga berkembang seiring perkembangan industri ini. Tak mengherankan, setiap tahun dipastikan ada pemekaran atau pengembangan divisi baru di Think.Web.


“Ke depan, cita-cita besarnya Think.Web bisa menjadione of the top digital agency, walaupun saya merasa sekarang sudah berada di situ,” ucap Anan seraya tertawa.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)