Friday, 20 February 2015

Aliifah Mahdy - Lovely Jar Owner Indonesia


Toples, yang biasanya hanya dipakai untuk menyimpan kue, di tangan Aliifah Mahdy telah bermetamorfosis menjadi aneka karya nan indah. Dengan bendera Lovely Jars, dara yang biasa disapa Al ini mampu menjual ribuan toples cantik setiap bulann.

Al mengawali bisnisnya pada 2011, dua tahun setelah menamatkan kuliahnya di Jurusan Desain Grafis dan Periklanan, Limkokwing University, Malaysia. “Setelah pulang ke Indonesia, saya sempat bekerja membantu orang tua dulu selama sekitar dua tahun,” tuturnya ketika diwawancara SWA di kantornya, Jl. Jeruk Manis 4/10, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Aliifah Mahdy - Lovely Jar Owner Indonesia
Creative common image by swa

Namun, Al ternyata tidak betah bekerja di kantor ayahnya yang produsen Pil Binari itu. Dia pun mencari lahan yang pas untuk berbisnis sekaligus menuangkan gairahnya di bidang desain grafis. Saat itulah anak keempat dari lima bersaudara kelahiran 1986 itu teringat hobi lamanya, mempercantik toples biasa.

Memang, sejak di bangku sekolah, Al yang memiliki jiwa seni yang kuat kerap menghias toples biasa di rumahnya dengan berbagai aksesori. Hasilnya, toples tersebut cocok menjadi tempat aksesori sekaligus penghias rumah. Al ingat, sejak dulu pun ia sudah melayani pesanan pembuatan toples cantik dari temannya yang terpincut melihat karyanya itu. Berangkat dari sana, pada 28 September 2012 ia memantapkan diri berbisnis toples cantik. Meski ayahnya pengusaha, Al merogoh koceknya sendiri Rp 2,5 juta untuk memodali bisnis perdananya itu.

Dana itu dihabiskannya untuk membeli setengah lusin toples dan berbagai pernak-pernik penghiasnya. Untuk promosi, ia cukup mengandalkan akun Facebooknya yang berisi sekitar 2 ribu teman. Usahanya tak sia-sia, banyak yang tertarik membeli buah karyanya. Bahkan, 12 toples pertamanya, yang bermodel shio kelahiran orang, ludes seketika diborong seorang pembelinya. Padahal, harga yang dipasangnya tak murah, puluhan ribu rupiah per buah. Peristiwa itu pula yang membuatnya kian yakin atas pilihan bisnisnya.

Selain shio, Al juga membuat aneka model lain seperti hewan, bunga dan objek terkenal seperti Menara Eiffel dan jam Big Ben, serta aneka karakter animasi. Ia pun membuat model berdasarkan hari-hari besar seperti Lebaran, Natal, Hari Ibu dan Halloween. “Nanti juga mau mengeluarkan yang bling-bling seperti Syahrini gitu, hehehe….” kata Al seraya tertawa kecil.

Untuk membuat produknya, ia terlebih dulu membuat desainnya di komputer, lalu mencetaknya menggunakan 3D printing. “Kami lihat dulu bentuknya apa, baru diputuskan mau pakai bahan apa. Bahannya sendiri dari kayu, resin, tanah liat, dan macam-macam,” ujar Al. Untuk bahan toples, ia memesan dari produsen dalam negeri hingga mengimpor dari Italia dan Amerika Serikat untuk menyediakan bahan toples yang lebih berkualitas.

Seiring waktu, Al tak hanya berpromosi lewat media sosial, tetapi juga melalui pameran di Grand Indonesia dan tempat lainnya. Perusahaan-perusahaan besar kerap mengontaknya setelah karyawan mereka melihat produknya di berbagai pameran itu. Sekali pesan, klien korporatnya seperti Conoco Phillps dan Nutrifood bisa mengorder hingga 4 ribu unit toples.

Beruntung, sang ayah, Syarief Mahdy – yang dipanggilnya Abah – tekun membimbingnya. Ayahnya mengulas laporan penjualan Al dua minggu sekali. Ayahnya juga yang mengingatkan Al untuk memilih nama yang tepat untuk bisnisnya. Bahkan, saat akhirnya Al memilih merek Lovely Jars, ayahnya mengingatkan untuk segera mematenkan nama tersebut.

Ayahnya kembali mengingatkan putrinya ketika cara kerja Al mulai tidak bisa mengimbangi jumlah pesanan yang masuk. Wajar saja, karena selama tiga bulan pertama menjalani bisnisnya, Al sendiri yang membuat, memasarkan, bahkan terkadang ikut mengantarkan produk jadi ke rumah kliennya. Karena itu, ayahnya menyarankan untuk menambah pegawai. Ketika bisnisnya kian membesar, Al pun akhirnya memilih hijrah dari rumahnya ke kantornya yang sekarang. Di kantornya sekarang ada sembilan karyawan yang membantunya mengerjakan pesanan ribuan toples per bulan.

Meski kini produknya kian dicari orang, Al enggan menjadikan karyanya sebagai produk massal. Ia khawatir citra produknya akan terpuruk. Itu sebabnya, Al hanya memasarkan di tempat yang dipandangnya sesuai dengan kelas produknya seperti di Dia-Lo-Gue Art Space Kemang dan butik Ria Miranda, juga di Kemang. “Saya pilih Kemang dua-duanya, tetapi pasarnya berbeda. Ria Miranda menyasar hijabers (pemakai jilbab) yang kemungkinan besar tidak main ke Dia-Lo-Gue, dan sebaliknya,” tutur Al yang juga memasarkannya di galeri seni Lawang Wangi di Bandung dan di toko online Bobobobo.com.

Al mematok harga Lovely Jars Rp 69-259 ribu per toples. Bagi yang ingin memesan dengan model khusus, ada tarif tambahan Rp 35 ribu per buah. Meski harganya cukup premium untuk sebuah toples berukuran reguler, Al mengaku tak pernah sepi pembeli. Permintaan dari luar negeri via Internet pun mengalir, seperti dari Spanyol, Qatar dan Bahrain. “Kebanyakan pesanan dari luar negeri itu dari Timur Tengah. Mereka itu kan jorjoran kalau untuk uang, dan di sana juga jarang ada produk seperti ini,” ujarnya.

Bahkan, pemesan dari Bahrain meminta menjadi agenpenjual resmi Lovely Jars di negerinya. “Dia mau bikin Lovely Jars Bahrain atau bagaimana, gitu. Makanya, kami sedang memikirkan bagaimana prosesnya,” kata Al yang masih memikirkan masak-masak permintaan konsumennya dari Jazirah Arab itu.

Ke depan, Al ingin memiliki pabrik toples sendiri. Selama ini, dia hanya membuat desain tutup toples, sedangkan bagian bawahnya dipesan dari pihak lain. Selain itu, ia juga ingin membuat ekshibisi khusus toples. “Dalam ekshibisi itu mungkin bisa bekerja sama dengan produsen emas, kristal Swarovski, atau mutiara. Dengan begini, toples saya bisa jadi sebuah karya seni,” Al memaparkan impian terpendamnya dengan mata berbinar-binar.

Novistiar Rustandi, pengamat bisnis start-up, menyarankan agar Lovely Jars yang menyasar segmen menengah-atas mengimbangi kualitas produknya dengan servis yang baik. “Dengan kualitas produk yang bagus, mereka juga harus mempertimbangkan servisnya seperti apa. Misalnya, barangnya rusak, pecah atau apa, harus ada garansi yang bisa diberikan kepada pelanggan,” kata Novistiar yang juga Direktur Jakarta Founder Institute.


Novistiar menyarankan agar Al berhati-hati dengan prinsip eksklusivitas yang diusungnya. “Walaupun berusaha eksklusif, saya rasa tidak perlu sampai susah didapatkan di tempat lain. Eksklusivitas mungkin saja bisa didapatkan dari harganya yang mahal, sehingga meskipun banyak dijual di online tetapi tidak semua orang bisa beli, kan? Karena, kalau kita mau berjualan, pada intinya adalah bagaimana barang kita mudah ditemukan oleh si calon konsumen,” kata Novistiar

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)