Monday, 10 November 2014

Pidato Presiden Jokowi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia - Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).


Berikut pidato lengkap Presiden Jokowi di hadapan parapengusaha RI-Tiongkok:

Pidato ini telah di-edit agar lebih mudah dipahami dan dibumbui sedikit, tidak 100% sesuai dengan ucapan Jokowi. Tapi poin-poin pentingnya sudah terwakili dari terjemahan Video Presiden Jokowi di KTT APEC.
Jokowi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia - Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi salam sejahtera bagi kita semuanya

Yang saya hormati, bapak ibu dari dunia usaha baik yang berasal dari Indonesia maupun dari Tiongkok. Pagi hari ini saya berbahagia sekali, saya sangat senang karena bisa hadir di tengah-tengah bapak ibu semuanya. Karena beberapa tahun yang lalu saya adalah seorang pengusaha

Jadi kalau hari ini berada di tengah-tengah bapak ibu semuanya untuk berbicara masalah bisnis, untuk berbicara investasi itu memang dunia saya sebelum saya jadi wali kota, sebelum saya jadi gubernur dan juga sebelum saya jadi presiden saat ini.

Bapak-Ibu yang saya hormati saya ingin menyampaikan mengenai peta Indonesia.

Agar kita tahu semuanya bahwa 2/3 wilayah Indonesia adalah laut, adalah air, adalah samudera. Penduduk di Indonesia 240 juta dan jarak dari barat ke timur Indonesia itu seperti London sampai Istanbul, sebuah jarak yang sangat lebar sekali. Kemudian investasi di triwulan pertama kemarin investasi ke Indonesia mencapai Rp 106 triliun atau kurang lebih USD 9 miliar, sebuah angka yang lumayan besar.

Ke depan, karena kita ingin agar transportasi untuk logistik dan orang itu lebih murah kita ingin membangun jalur rel kereta api tidak hanya di Pulau Jawa tetapi juga di Sumatera, di pulau Kalimantan, di pulau Sulawesi dan di Papua. Oleh sebab itu kita membutuhkan investasi yang besar di dalam membangun jalur kereta api. Inilah kesempatan Bapak-Ibu semuanya untuk masuk ke investasi ini.

Kemudian airport. Kita juga membutuhkan airport karena airport-airport yang ada di Indonesia runway-nya masih pendek, kemudian terminalnya juga masih kecil-kecil dan kita ingin 5 tahun ke depan airport yang ada semuanya diperluas dan yang belum, tentu saja dibangun. Ini juga peluang kesempatan yang bisa Bapak-Ibu masuki.

Lima tahun ke depan kita ingin membangun dan memperluas 24 pelabuhan. Seaport dan deep seaport untuk memperlancar arus barang baik ke luar negeri maupun antarpulau. Ini juga kesempatan yang bisa Bapak-Ibu masuki dalam memperbaiki infrastruktur yang ada di Indonesia.

Nah ini kita yang masalah. Saat ini kita memang kekurangan listrik. Tidak di Sumatera, tidak di Kalimantan, tidak di Sulawesi dan juga di Papua. Masalah besar.

Saya bertanya kepada investor. Problemnya apa sebetulnya di bidang pembangkit tenaga listrik ini. Di bidang power plant ini. Semuanya mengatakan ada dua.

Yang pertama, masalah perizinan, yang kedua masalah pembebasan lahan.

Perizinan, ada yang mengatakan kepada saya, ijin mengurus power plant itu sampai 2 tahun. Ada yang ngomong ke saya lagi sampai 4 tahun. Ada yang ngomong, terakhir ngomong dengan saya dari Sumatera Selatan 6 tahun.

Ini problem besar yang harus kita selesaikan dan saya, sudah saya mulai, agar izin-izin ini nanti akan kita gabungkan dalam sebuah kantor one stop service, yang kita harapkan nanti semua kementerian baik PLN, kantor ESDM yang urusan-urusan yang berkaitan dengan investasi berada dalam satu gedung. Dalam satu ruangan. Sehingga ngurus-ngurus izin itu gampang, tidak bertahun-tahun seperti yang sekarang kita lihat. Kemarin yang di Sumatera Selatan saya telepon, seminggu selesai. Tapi masa tiap hari presiden harus telepon urusan izin? Ini tidak mungkin.

Oleh sebab itu yang paling penting adalah membangun sebuah kantor perizinan, yang nanti akan saya pantau langsung. Dan kemudian kalau Bapak-Ibu semuanya mendapatkan kesulitan ya itu baru saya yang menyelesaikan. Problem kita emang ada di situ. Saya bercerita karena saya pernah mengalami ngurus izin. Tinggal kita harapkan ke depan tidak ada lagi urusan-urusan yang berkaitan dengan listrik. Kita ingin sekarang ini memulai power plant dibangun, industri juga dibangun. Power plant-nya selesai, industrinya juga selesai. Ini yang ingin kita kerjakan ke depan.

Juga di beberapa lokasi kita ingin membangun sebuah industrial zone, karena kita ingin industri kita berkembang lagi. Manufaktur di Indonesia juga berkembang lagi. Sekian tahun ini industri kita turun. Bukan naik tapi turun. Deindustrialisasi. Ke depan, saya meyakini karena saya juga berasal dari dunia industri, saya tahu apa yang harus saya kerjakan. Saya tahu apa yang harus negara kerjakan untuk membangun industri di Indonesia lagi.

Inilah kesempatan, kesempatan kerja sama pengusaha Indonesia dan pengusaha dari Tiongkok. Harus kerja sama, agar ada percepatan. Bapak-Ibu bisa melihat, ya kita bandingkan saja, sekarang upah pekerja di sini berapa. Di Indonesia berapa. Kalau saya buka di sini, pengusaha di sini bisa lari semuanya ke Indonesia, karena kita jauh lebih kompetitif. Oleh sebab itu saya kira pengusaha bisa menyampaikan betapa kita mempunyai sebuah ruang kompetisi untuk membawa industri kita berkembang lagi, dunia manufaktur kita juga berkembang lagi.

Ini kesempatan kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia. Dan jalinan kerja sama itu kan bukan hanya setahun dua tahun yang lalu. Sudah beratus-ratus yang lalu kita bekerja sama antara Tiongkok dan Indonesia.

Selanjutnya juga, jalan tol. Ini kita juga ketinggalan. Hanya berapa kilo kita bangun dalam sekian tahun ini. Sangat kecil sekali. Problemnya selalu ada di pembebasan lahan. Selalu ada di situ. Tetapi, kalau investor didukung oleh pemerintah ini sebenarnya hal yang sangat mudah. Kenapa? Karena biasanya investor dibiarkan sendiri, kalau ada masalah. Tidak pernah dibantu.

Oleh sebab itu untuk urusan pembebasan lahan saya akan perintahkan langsung kepada menteri, kepada gubernur, kepada wali kota, untuk ikut campur di dalam membantu pembebasan lahan setiap proyek-proyek yang ada.

Saya berikan contoh di Jakarta. Ada yang namanya Jakarta Outer Ring Road. 15 tahun yang lalu dibangun. 7 tahun yang lalu stop, berhenti, karena masalah 1,5 kilometer, karena masalah 143 keluarga yang tidak menerima kompensasi ganti rugi. Tahun yang lalu saya datangi langsung ke bawah. 4 kali saya undang makan, akhirnya selesai masalah itu. Rampung. Hanya dalam waktu 4 bulan. Tapi proyek itu sudah berhenti 7 tahun. Dan 6 bulan yang lalu sudah digunakan.

Artinya 15 tahun kemudian 7 tahun berhenti hanya gara-gara pembebasan tanah. Ini tidak boleh lagi terjadi di masa yang akan datang. Investasi baik jalan tol, baik power plant, baik apapun yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, apapun yang berkaitan dengan pembukaan lapangan pekerjaan, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah harus semuanya membantu. Ini tekad kita agar pertumbuhan ekonomi kita ke depan bisa kembali tumbuh dengan baik.

Kemudian juga masalah kilang. Masalah refinery. Ini juga kesempatan bagi Bapak-Ibu semuanya yang ingin masuk ke sini, karena sudah bertahun-tahun kita tidak memperbaiki kilang kita.

Untuk sebab itu ada defisit neraca transaksi. Ada defisit neraca perdagangan kita, karena memang yang terbesar adalah masalah impor di bidang perminyakan kita. Ini juga yang harus kita benahi agar lifting produksi itu kita segera naik, sehingga impornya bisa kita tekan untuk turun.

Kemudian juga perlu saya sampaikan masalah yang berkaitan dengan minerba. Masalah yang berkaitan dengan raw material yang ada di Indonesia. Kita akan mulai keluar dari Indonesia itu barang setengah jadi, minimal barang setengah jadi dan barang jadi. Karena kita ingin nilai tambah itu ada di Indonesia. Oleh sebab itu kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia itu harus menguntungkan kedua negara. Harus menguntungkan rakyat Indonesia dan rakyat Tiongkok. Tidak mungkin hanya salah satu saja. Semuanya harus mendapatkan keuntungan.

Inilah yang nanti juga akan saya sampaikan kepada Presiden Xi Jinping yang sebentar lagi akan bertemu, bahwa kerja sama ini memang perlu diperkuat lagi, tetapi keuntungan harus berada di dua negara dan di kedua rakyat kita.

Nah, ini yang sering ditanyakan kepada saya. Bagaimana masalah subsidi BBM? Karena anggaran APBN kita totalnya ada USD 168 miliar dan USD 30 miliar-nya dipakai untuk subsidi. Ini kan besar sekali. Ini adalah pemborosan yang bertahun-tahun dibiarkan. Oleh sebab itu kita ingin di tahun ini kita ingin mengalihkan subsidi BBM itu kepada hal-hal yang produktif. Benih untuk petani, pupuk untuk petani, irigasi untuk desa, pembangunan waduk, pembangunan infrastruktur, mesin untuk mesin kapal untuk nelayan, mesin pendingin untuk nelayan. Ini yang akan kita kerjakan sehingga subsidi itu kepada subsidi sektor produktif, bukan untuk konsumtif.

Nah ini tadi yang sudah saya sampaikan. Untuk perizinan akan kita satukan. Saya sudah targetkan dalam 3 sampai 6 bulan ini harus selesai. Sehingga perizinan nantinya semuanya dalam keadaan yang cepat, ada kepastian, bayarnya juga jelas, selesainya juga jelas sehingga mulai proyek itu juga jelas kapan. Dan kalau ada masalah bisa telepon ke menteri. Ini Pak Menko Perekonomian juga ada di sini, menteri perdagangan juga di sini, telepon ke beliau. Kalau masih tidak ditanggapi telepon ke presiden langsung.

Yang terakhir masalah kualitas. Masalah kualitas. Kita ini sudah bekerja Tiongkok dengan Indonesia, ini sudah lama. Tetapi masalah kualitas saya harus ngomong apa adanya, harus diperbaiki. Kesalahannya ada di dua dunia usaha, yang di sini maupun yang di Indonesia. Saya berikan contoh power plant. Kualitas yang sekarang ada, yang sudah dibangun, itu kualitasnya kurang baik. Kurang baik. Ini yang harus diperbaiki. Ke depan kita masih banyak perlu power plant. Tapi saya minta, karena ada yang baik, ada yang cukup, ada yang tidak baik. Nah yang tidak baik dan yang cukup dihilangi, yang dibangun nanti semuanya yang baik.

Produk-produk seperti itu memang harus dilihat kualitasnya. Sehingga jangan sampai, kita juga ingin menjaga agar persepsi, agar imej, barang yang berasal dari Tiongkok itu memang betul-betul barang-barang yang memang baik. Karena saya tahu memang produknya di sini banyak yang baik. Tetapi kadang-kadang, yang di Indonesia juga minta yang tidak baik. Tetapi dibayar dengan harga yang baik. Ini yang enggak benar. Waktu jadi gubernur juga sama. Bus itu juga sama. Saya kira Bapak-Ibu semuanya tahu. ini sudah tidak boleh kejadian lagi. Ke depan semuanya harus barang-barang yang mempunyai kualitas.

Saya kira tadi sudah saya sampaikan bahwa keuntungan harus berada di kedua negara. keuntungan harus berada di kedua pengusaha. Keuntungan harus berada di rakyat Indonesia dan rakyat Tiongkok.

Saya tunggu kedatangannya di Indonesia. Saya tunggu investasinya di Indonesia.

Terima kasih.


Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)