Monday, 29 September 2014

Prof Mulyana Ahmad : MENSANA EN COPEROSANO

SEBUAH GAGASAN Untuk MEMENUHI KEBUTUHAN PROTEIN pada KONDISI RENDAHNYA DAYA BELI akibat KENAIKAN HARGA BBM

Source : https://www.facebook.com/mulyana.ahmad.39/posts/921036797925819

Slogan MENSANA EN COPEROSANO (Di dalam Tubuh yg Sehat terdapat Jiwa yg Kuat) mungkin sudah tidak relevan lagi, tapi untuk membangun sebuah bangsa yang kuat memang diperlukan modal dasar tubuh dan jiwa yang kuat. 

Tubuh yang kuat dimulai dari asupan protein hewani dan protein nabati yang mencukupi. Kebutuhan protein total yang mencukupi adalah 150 gram sekali makan sehari tiga kali. Protein total ini bersumber dari protein hewani dan nabati yg terkandung di dalam makanan seperti daging, telur, susu, kacang2an dll. Data terakhir 2014 menunjukan kenaikan signifikan asupan protein masyarakat indonesia, tapi itupun baru mencapai 60 % kebutuhan total.

KONSUMSI PROTEIN INDONESIA PALING RENDAH DI ASEAN

Sebesar 40 persen dari 34 provinsi di Indonesia, angka pemenuhan protein hewaninya berada di bawah rata-rata nasional. Daerah itu antara lain Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat. Data Unicef tahun 2013, prevalensi orang pendek Indonesia karena kekurangan protein sebesar 37 persen dan prevalensi gizi kurang 31 persen dari jumlah penduduk.

PENGARUH KENAIKAN HARGA BBM

Tidak ada sanggahan lagi, kenaikan harga BBM akan menaikan harga-harga dan akan menurunkan daya beli masyarakat. Daya beli yang menurun akan mempengaruhi pola konsumsi. Masyarakat akan memprioritaskan pemenuhan sumber karbohidrat yg lebih murah dengan mengorbankan sumber protein yang lebih mahal. Harga sumber proteinpun akan terkoreksi lebih tinggi dan semakin tidak terjangkau.

SOLUSI

Protein yang terserap sempurna oleh tubuh dinamakan protein aktif. Untuk mempermudah akan saya sebutkan harga protein yg sdh dikonversi berdasarkan harga terakhir bulan september 2014 dalam satuan gram. (perhitungan tdk sy sertakan karena cukup rumit): Daging = Rp 240, Telur= Rp 120, Ikan = Rp 120 dan kedelai = Rp 40. ini artinya bila kita memilih protein kedelai maka akan menghemat anggaran pemenuhan protein 6x daging, 3x telur dan ikan. 

Secara nutrisi, kedelai bisa diandalkan sebagai substitusi protein hewani meskipun kedelai masih kekurangan asam amino hydroxyproline. (lihat tabel)



OLAHAN KEDELAI: TAHU, TEMPE & DAGING TIRUAN

Konsumsi tahu dan tempe sudah terbiasa di indonesia, tapi fungsi makanan ini tidak bisa menggantikan fungsi daging. Persepsi masyarakat sdh terlalu kuat. Daging tiruanpun tdk bisa menggantikan daging karena texture dan harganya yg tinggi.






DAGING TIRUAN NANOFIBER

Menurut saya, daging tiruan ini yg bisa mensubstitusi daging asli karena daging tiruan ini bisa meniru texture daging dengan sempurna. Susunan serat bisa diatur menyerupai daging ikan, daging ayam yg serah, maupun daging sapi yag lebih komplex. 

Susunan actin daging bisa tergantikan oleh soy isolate protein sedangkan susunan myosin daging bisa digantikan nanofiber kedelai. Kombinasi keduanya membentuk myofibril menyerupai jaringan daging asli. Rasa daging buatan inipun bisa mirip dengan cara menambahkan beef extract atau kaldu asli yg harga dan kebuutuhhannya sangat rendah. 


Daging tiiruan bisa menggunakan lemak yg lebih sehat karena bisa memilih yg tdk mengandung kolesterol. dan yang terakhir adalah kita bisa terhindar dari berbagaimacam resiko penyakit yg bisa terbawa dari daging.
Nanofiber usahkan dibuat dengan ukuran, panjang, elastisitas sama persis dengan myofibril daging dan semua bahannya dari soy isolate protein kedelai dan biopolymer lain seperti collagen. Nanofiber ISP bisa diproduksi menggunakan tehnik high electric field electro spinning, high speed force spinning atau gabungan keduanya. 

Tentu saja tidak menggunakan electrospinning scala lab yg menggunakan single needle spinnerete tapi menggunakan electrospinning needle free kapasitas besar. Yg paling effisien adalah force spinning yg diberikan gaya high electric field 44 KVa.


Semoga dengan seperti ini sekaligus bisa mendorong upaya swasembada kedelai dan membuat segala upaya menjadi lebih menarik karena kebutuhannya menjadi semakin besar.

‪#‎Ini_hanya_sebuah_gagasan‬, 

karena produsen industrial electrospinning dan forcespinning dunia masih fokus bermain di nanofiber bernilai tinggi

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)