Facebook

Tuesday, 16 September 2014

Iqbal Masih, Pahlawan Kecil Dari Pakistan BONUS MOVIE

Iqbal Masih, Pahlawan Kecil Dari Pakistan BONUS MOVIE


Seorang anak di Pakistan menjadi simbol perlawanan eksploitasi tenaga kerja anak, dan berhasil meraih penghargaan “World’s Children’s Prize” tahun 2000, yaitu ajang penghargaan bergengsi bagi aktifis anak yang baru pertama kali diadakan di dunia. Iqbal Masih, lahir tahun 1983 dari sebuah keluarga miskin, yang tinggal disebuah pemukiman kumuh Muridke, Lahore, Pakistan.

Peta Muridke, Pakistan
Peta Muridke, Pakistan

Sejak kecil Iqbal tidak pernah merasakan kasih sayang ayahnya, Saif Masih, yang telah meninggalkan keluarganya, sehingga Ibunya, Anayat, selalu berhutang untuk menutupi kebutuhan keluarga. Suatu hari Anayat membutuhkan uang untuk membiayai operasinya, dan kembali meminjam uang kepada rentenir seorang pengusaha karpet lokal bernama “Ghullah” dengan syarat jika dua tahun tidak bisa melunasi, maka anaknya Iqbal akan dipekerjakan sebagai buruh.

Potret Kemiskinan di Pakistan
Potret Kemiskinan di Pakistan

Sayang dalam dua tahun itu, Anayat tak bisa menepati janjinya, sehingga ia terpaksa melepaskan Iqbal ke tangan sang rentenir. Disaat anak-anak usia 5-6 tahun menikmati masa kanak-kanak pada umumnya, Iqbal harus menjalani kerja paksa disebuah pabrik karpet, dengan waktu kerja 12-14 jam perhari selama 6 hari.

Sebenarnya, kerja paksa, eksploitasi anak maupun perbudakan anak sangat bertentangan dengan hukum di Pakistan, namun hal itu masih bisa ditemukan disejumlah tempat, akibat aparat pemerintah yang korup, ditambah pihak kepolisian setempat juga turut menikmati uang suap dari para pengusaha lokal. Kondisi penampungan di pabrik karpet itu sangat tidak memadai.

Perbudakan di Pakistan kepada anak-anak
Perbudakan di Pakistan kepada anak-anak

Siksaan fisik sering dialami Iqbal yang kala itu sudah berusia 10 tahun. Berharap yang terbaik, bersama beberapa temannya Iqbal memutuskan untuk kabur dan melaporkan kejadian yang mereka alami kepada pihak kepolisian setempat. Namun kepolisian langsung mengembalikan Iqbal dan teman-temannya kepada pemilik pabrik demi imbalan uang.

Iqbal pun dipaksa kembali bekerja, namun kali ini lebih parah, dengan kondisi kaki dirantai ke mesin karpet, belum lagi siksaan mental seperti caci maki, dan sengaja dibiarkan kelaparan. Dua tahun kemudian, Iqbal berkesempatan menghadiri perayaan “Hari Kebebasan” yang diadakan oleh Brick Layer Unions.

Di sana Iqbal berbicara mengenai kisah hidupnya di depan umum. Dari pertemuan itu, Iqbal mulai mengetahui banyak hal terutama tentang hak-hak pekerja, dan mengerti bahwa menjaminkan seseorang untuk melunasi hutang merupakan pelanggaran hukum di Pakistan.

Tersentuh dengan kisah Iqbal, pemimpin Bonded Labour Liberation Front (BLLF), Ehsan Ullah Khan, akhirnya berhasil membebaskan Iqbal dan teman-temannya. Setelah bebas, Iqbal diangkat sebagai Ketua Pergerakan Anti Perbudakan di Pakistan. Iqbal pun akhirnya bersekolah, di sekolah khusus yang didirikan BLLF bagi anak-anak korban kerja paksa.

Pendidikan yang diprogram selama 4 tahun itu diselesaikan oleh Iqbal hanya dalam waktu 2 tahun. Seiring meningkatnya pengetahuan Iqbal terhadap hukum-hukum pekerja dan hak asasi manusia, ditambah kepribadiannya yang enerjik, Iqbal mulai menjadi pembicara di depan para pebisnis, ditengah aksi unjuk rasa menantang eksploitasi anak diseluruh Pakistan.

mendapat tentangan keras dan ancaman pembunuhan dari para mafia bisnis, Iqbal tetap melanjutkan kampanyenya menentang praktek perbudakan. Lebih dari 3.000 anak Pakistan berhasil membebaskan diri dari tempat mereka dieksploitasi setelah melihat dan mendengar seruan anti perbudakan dan eksploitasi anak yang diadakan oleh BLLF.

Karena menginspirasi banyak orang, Iqbal pun diundang sejumlah negara untuk menyerukan penghentian perbudakan terhadap anak, dan mengimbau pembebasan anak-anak yang masih menjalani praktek kerja paksa. Kisah Iqbal juga menginspirasi seorang pemuda Kanada bernama Craig Kielburger yang terdorong membuat sebuah perubahan dengan mendirikan organisasi kemanusiaan, bernama “Free the Children”.

Dari AS pada Desember 1994, Iqbal melanjutkan pendidikannya dengan harapan akan menjadi pengacara yang akan memperjuangkan hak-hak para pekerja. Namun pada 16 April, 1995, Iqbal tewas ditembak kepalanya, saat pulang ke rumah mengendarai sepeda bersama beberapa orang temannya. Pembunuhan Iqbal diduga banyak pihak terkait perjuangan Iqbal menentang praktek eksploitasi anak. Tidak seperti yang diklaim pihak kepolisian bahwa pelaku pembunuhan itu konon adalah petani lokal bernama Ashraf Hero.

Kalau anda berpikir perjuangan itu sudah berakhir, anda salah

Pengakuan Ashraf, diperoleh polisi setelah beberapa jam menyiksanya. Meskipun Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan mengamini pernyataan pihak kepolisian, namun banyak yang meyakini bahwa pembunuhan Iqbal terkait mafia pengusaha karpet yang usahanya terancam akibat kampanye Iqbal yang lantang menentang aksi eksploitasi anak.

Setelah kematiannya, Iqbal Masih menjadi pahlawan atas jasanya menentang dan memperjuangkan anak-anak korban perbudakan dan para pekerja paksa di Pakistan maupun dipenjuru dunia. Hasrat dan pesannya yang kuat akan “kebebasan” mendorong ribuan anak bahkan orang dewasa korban perbudakan menuntut keadilan dan kebebasan.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)