Saturday, 30 August 2014

Prof Mulyana Ahmad : TIONGKOK MEMBAYAR KEDELAI BRAZIL DENGAN AMPASNYA

Prof Mulyana Ahmad : TIONGKOK MEMBAYAR KEDELAI BRAZIL DENGAN AMPASNYA

 
source :  https://www.facebook.com/mulyana.ahmad.39/posts/900862969943202?fref=nf

Tahun 2013 adalah sejarah pertama kalinya Brazil menjadi penghasil kedelai terbesar di dunia mengalahkan USA, Argentina, China dan Paraguay dengan jumlah produksi kedelai sebanyak 85 juta ton/tahun. 

Faktor yg menjadi penyebabnya adalah import kedelai China yg mencapai 1,4 juta ton kedelai perminggu, keberhasilan Brazil menemukan varietas kedelai baru yg bisa menghasilkan 4,3 ton/Ha, dukungan system mekanisasi pertanian dan dukungan pemerintah mapping tanah pertanian menggunakan satelit dengan akurasi 100 m2. 

Mapping satelite ini membantu petani kedelai untuk berproduksi kedelai dgn memberikan informasi tanah mana yg paling cocok untuk bertani kedelai sekaligus memberikan informasi unsur hara dan kadar air suatu lokasi. 

Informasi ini sempat disalah gunakan petani kedelai dengan membuka kawasan hutan lindung yg akhirnya bisa dikendalikan dengan baik. Dengan semua faktor pendukung seperti ini petani kedelai gelap mata mabuk kepayang sangat bernafsu untuk menanam kedelai.

Ada apa dengan China?

China sendiri berhasil memproduksi 22 juta ton kedelai pertahun, tapi china malah meningkatkan import kedelai menjadi menjadi 1,4 juta ton kedelai setiap minggu. Jawabannya adalah China mengkonversi kedelai menjadi produk bernilai tambah.

Kedelai yg datang langsung masuk mesin triple roll hot mill, dipisahkan crude soy oil dengan bagian padatnya. Crude soy oil diambil terlebih dahulu bagian yg berharganya, yaitu: phytosterol stanol ester, lesitin, plavonoid, nutracetical function dan turunan berharga lain dari crude soy oil. 

Sisanya yg berupa olein dijadikan sebagai minyak goreng rendah kolesterol. Kecuali minyak goreng, semua yang disebutkan tadi adalah bernilai sangat tinggi dan sangat dibutuhkan industri pangan, kosmetik, farmasi, nutraceutical, kimia dll.

Bagian padatan mendapatkan perlakuan yang sama. Dari 23 asam amino kedelai terdapat 5 asam amino yg menonjol. Triftopan, lysin, isolesin dipisahkan terlebih dahulu, sisanya kemudian dijadikan soy isolate protein dgn kandungan protein 91%, sisanya lagi digunakan untuk industri textil premium berkualitas 5x sutra, sisanya lagi kemudian dijadikan textured soy protein, sisanya lagi dijadikan konsentrate protein, sisanya lagi difermentasi menjadi ribonukleatide dan peptida lain penyedap rasa, sisanya lagi dijadikan media pembiakan japang fusarium fenenatum kaya protein dan memiliki hypa yg mirip seperti myofibril daging sapi yg bisa digunakan untuk memproduksi olahan daging murah tapi memilki texture seperti serat atau myofibril daging sapi. (Campuran isolate soy protein dan fusarium fenenatum ini hampir sempurna mengganrikan daging tapi belum memiliki rasa daging).

Sisanya lagi digunakan untuk memproduksi kecap dan bumbu master menyerupai kecap. Sisa yg terakhir diperuntukan menjadi bungkil kedelai. Bungkil ini ditingkatkan proteinnya dengan fermentasi protein sel tunggal kemudian dikeringkan untuk menjadi campuran pakan sapi, babi, ikan, bebek dan udang.

Harga bungkil kedelai ini U$ 700/ton, beda sedikit harganya dari kedelai yg diimport dari Brazil
---------------------------------




Sebentar lagi semua produk yang saya sebutkan akan masuk ke indonesia dalam rangka pasar bebas ACFTA 2015. Bohong kalau ada pemimpin yang bilang siap bersaing tapi tidak memiliki pengetahuan apa-apa dan tidak melakukan apa-apa.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)