Wednesday, 6 August 2014

Memahami sisi-sisi paradok hidup di Indonesia

Memahami sisi-sisi paradok hidup di Indonesia


Pernahkan terpikir bagaimana nasib penduduk Indonesia lainnya di pulau terpencil, mereka tidak berbicara lagi mengenai lahan yang dijual tapi berbicara mengenai siapa yang bisa diajak untuk masuk kedalam pulau tersebut bersama membangun daerah, mereka tidak berbicara ber harga tanah per meter tapi apa keahlian yang bisa dipakai untuk kemajuan daerah.

Disisi lain ada yang menjual dan membeli tanah dengan harga yang fantastis, tidak masuk akal kalau hanya sekedar mengandalkan hukum harga pasar dan yang hidup dikota memang sinting kalau ingin tetap hidup sehat dengan materialisme tingkat tinggi seperti ini.

saya melihat peran pemerintah dalam penjaminan kehidupan rakyat Indonesia yang layak dan dijamin oleh Negara hampir tidak ada, program pemerintah hanya sekedar program luar dan dalam negeri yang menghamburkan uang pajak rakyat dan swasta untuk membangun kehidupan yang tidak pro rakyat dan sama sekali mungkin tidak pernah dirasakan bagi warga yang hidup di pulau terpencil di Indonesia, entah karna mereka tidak dihitung sebagai rakyat Indonesia yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama seperti layaknya penduduk lainnya di pulau terbesar.

Bagaimana kita harus menghargai tanah yang kita hidup diatasnya, bagaimana mungkin uang hanya dihabiskan untuk sepetak tanah yang kita sebut sebagai tempat tinggal diatasnya dan menghabiskan sebegitu banyak sumber dana untuk membelinya belum lagi membangunnya, dan kita menyebutnya sebagai bagian dari ekonomi pembangunan masyarakat.

Lalu dimana letak keadilan bagi rakyat yang tidak mampu dan tidak punya akses untuk itu hingga tua, apakah kita harus menyalahkan keadaan sekitar atau ini sebenarnya bentuk dari kesengajaan program pemerintah yang tidak pro rakyat dan ketidak mampuan pemerintah dalam pemerataan kesejahteraan dilapisan masyarakat.

Hidup kalau hanya sekedar menikmati hasil dari "kesemuan' dan hidup dalam kesemuan yang begitu keras kita rasakan saat ini dari sebagian bentuk ketidakadilan sosial yang membangun pada pengejaran materi yang tidak punya dampak manfaatnya hanya sekedar angka-angka yang ditentukan oleh pasar emosional yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau beginilah pembangunan jangka panjang di Indonesia.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)