Facebook

Monday, 4 August 2014

Canny Watae Resensi FILM Kisah Nyata "Recount" Versi Amerika dan Indonesia

Canny Watae Resensi FILM Kisah Nyata "Recount" Versi Amerika dan Indonesia


source : https://www.facebook.com/canny.watae?fref=nf

"Recount" adalah sebuah kisah nyata yang diangkat ke layar lebar untuk menggambarkan sengitnya perebutan suara penentu di Negara-bagian Florida, yang akan mengantarkan sang pemenang ke Gedung Putih. 

Wapres Al Gore sudah memberi ucapan selamat via telepon, sesuai tradisi demokrasi Amerika, kepada Gubernur George Bush. Tetapi, di rumah pemenangan, tim Gore mendapati suatu abnormalitas penghitungan suara. 

Komputer menunjukkan suara Gore bergerak turun secara sistematis, suatu hal yang tak mungkin (mosok ada suara "menghilang"?). Semua jaringan televisi memproyeksi kemenangan bagi Bush, kecuali Associated Press, kantor berita tertua di Amerika.

Tim Gore bersusah payah mengejar sang Wapres yang selangkah lagi naik ke podium. Pidato Konsesi (pengakuan kemenangan lawan) nyaris disampaikan. Gore menelepon Bush. "Sepertinya ada sesuatu di Florida, Anda belum menang". Gore menarik ucapan selamat. 


Adik George, Jeb Bush yang adalah Gubernur Florida, nyaris menutup perhitungan suara demi memenangkan kakaknya. Tetapi dalam tatanan hukum Florida, otoritas tertinggi Pemilu adalah Sekretaris Negara-bagian, bukan Gubernur.

Para dedengkot tim segera terbang ke Florida. Keluarga Bush menurunkan James Baker, bekas Sekretaris Negara (Menlu) era Kepresidenan Bush senior. Pihak Gore menerjunkan Warren Christopher, juga bekas Sekretaris Negara.

Terjadi tarik menarik soal hitung ulang kertas suara secara manual. Termasuk street fighting (aksi jalanan, demo, intimidasi). Pelobi ulung Partai Republik diterjunkan menempel ketat Sekretaris Negara agar ia segera menutup penghitungan suara.

Selagi tim Gore mengadvokasi permasalahan ini ke Mahkamah Negara-bagian, tim Bush mulai membuka jalan ke Mahkamah Agung Amerika. Tim Gore berhitung, Mahkamah Agung berisi mayoritas Hakim Agung pilihan Presiden-Presiden kubu Republik (jaman Reagen dan Bush Senior), kalah banyak dengan Hakim pilihan Presiden kubu Demokrat (Clinton). Tim Bush berhitung, Hakim Mahkamah Negara-bagian didominasi tokoh beraliran Demokrat.

Keputusan Mahkamah Negara-bagian adalah hitung ulang secara menyeluruh se-Florida. Di tengah penghitungan, turun keputusan Mahkamah Agung: Penghitungan harus dihentikan. Suara Gore tinggal berselisih beberapa ratus suara saja di bawah Bush ketika palu diketuk Hakim.

Bush junior menjadi Presiden. Di bawah 2 periode administrasinya, perekonomian Amerika bangkrut. Sampai sekarang, sampai sekarang Amerika masih bangkrut. Utang lebih besar daripada GDP. 


Al Gore, di luar dari kehancuran rumah tangganya, sukses sebagai Duta Lingkungan Hidup. Ia meraih suara secara total 500an ribu di atas Bush (Popular Vote). Tetapi, "kekalahan" di Florida membuatnya kehilangan Delegasi Florida (Electoral Vote). Sehingga, ketika Delegasi Elektoral bermusyawarah ke Washington, mufakatnya sudah jelas: Bush Presiden.



Recount akankah terjadi di Indonesia kasusnya?


Pada tahun 2030 siapa saja yang berminat mengetahui siapa pemenang sejati Pilpres Amerika 2000, bisa menghitung lembar-lembar suara dari Florida, saat secara hukum dokumen itu de-classified (terbuka untuk umum).


"Recount", recommended untuk ditonton jelang dan saat Gugatan Pilpres 2014 bergulir di Mahkamah Konstitusi. Dengan konteks dan tatanan Hukum yang berbeda, rasa rasanya kali ini Penggugat akan menang (ha ha ha.... Rewako! Relawan Komando Prabowo).

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)