Wednesday, 6 August 2014

Canny Watae : Prabowo-Hatta adalah pemenang Pilpres 2014

Canny Watae : Prabowo-Hatta adalah pemenang Pilpres 2014


source : https://www.facebook.com/canny.watae/posts/10152612937743984
Rekans,
Mengapa saya yakin Prabowo-Hatta adalah pemenang Pilpres 2014? 

Mari kita bedakan antara saya sebagai pendukung dan saya sebagai “konsumen” Quick Count. 

Sebagai pendukung Prabowo-Hatta, saya aktif menyatakan dukungan via facebook ini melalui ekspresi status, baik sekedar pernyataan biasa maupun artikel yang berisi analisis. 

Semua upaya pra-Pencoblosan masuk dalam kategori “perjuangan”. Tanggal 9 Juli adalah demarkasi antara perjuangan dengan hasil perjuangan.

Meskipun mungkin hanya berdampak sangat kecil, tetapi saya yakin sudah berkontribusi pada capaian suara Prabowo-Hatta. Minimal, suara saya sendiri dan beberapa suara lain yang memutuskan memilih Prabowo-Hatta setelah membaca ekspresi-ekspresi saya. Apa yang ditawarkan Prabowo-Hatta dalam masa kampanye menurut saya adalah “The Best Offer Ever”, tawaran terbaik yang pernah diajukan kepada Rakyat dan Negara Indonesia. 

Saya telah berupaya untuk meyakinkan para pembaca Wall saya mengenai Best Offer itu.

Sekarang, mari kita ke Hasil. Percayalah pada Quick Count. QC adalah metode ilmiah yang secara cepat dapat memproyeksi Hasil Akhir penghitungan suara. Sepanjang dilakukan secara benar apa adanya, maka QC adalah proyektor akurat komposisi suara para Kontestan.

Pada tanggal 9 Juli itu, saya memberi perhatian ekstra pada QC yang diselenggarakan Indikator Politik Indonesia (IPI) yang ditayangkan stasiun Metro TV. Apalagi, QC ini menjadi dasar klaim kemenangan (sepihak) Joko Widodo – Jusuf Kalla saat konferensi pers bersama para petinggi partai pengusung. 

Saya melihat ada yang aneh pada QC tersebut, yang untuk beberapa saat hanya berstatus tanda tanya besar, sampai kemudian saya menemukan bukti kesalahan matematis (mathematical error) dari QC tersebut. 

Setelah Error tersebut “mengambil peran selanjutnya” pada pembentukan kurva perbandingan prosentase suara, saya berpandangan data sebelum titik Error masih dapat dijadikan proyektor hasil, setidaknya untuk wilayah waktu saat data tersebut ditampilkan di layar televisi.

IPI memaparkan data mereka pada situs resmihttp://www.indikator.co.id/pilpres2014/stabilitas.php. 

Pagi tanggal 6 Agustus 2014 kurva ini masih eksis. Saya telah mengamati kurva stabilitas ini beberapa waktu usai QC 9 Juli. Error terjadi pada saat data-masuk sebanyak 18% atau data dari 340 sampel TPS. Pada jumlah data-masuk ini, komposisi suara Prabowo : Joko adalah 54,06% berbanding 45,94% (lihat link di atas, klik titik titik pada kurva). 

Jika dibandingkan dengan data-masuk 17% di depannya, komposisi suara adalah 58,08% berbanding 41,92%. Harap diingat, yang ditampilkan di layar TV adalah proyeksi PROSENTASE, bukan proyeksi NOMINAL atau ABSOLUT. 

Di sinilah “selimut tebal” QC. Kita tidak diperlihatkan ada apa “di bawah selimut”. Kita tidak tahu, suatu tonjolan atau sebaliknya, lembah, di permukaan selimut terbentuk karena apa di bawahnya. Apakah itu anggota tubuh manusia atau gumpalan bantal, atau bisa jadi hanya udara kosong.

Mari kita buka selimutnya. Proyeksi Prosentase Suara pada kurva ditentukan atau dibentuk oleh proyeksi jumlah Nominal suara. Sederhananya begini: angka Prosentase muncul karena penyelenggara QC menghitung angka Nominal mengacu dari angka-angka yang datang dari sampel TPS. 

Misalnya, jika Prabowo meraih 6 suara dan Joko meraih 4 suara, maka Prosentase Prabowo adalah 6 dibagi 6+4 atau 60%. Prosentase Joko adalah 4 dibagi 4+6 atau 40%. Ini Matematika Dasar. Tidak perlu status ahli statiska untuk bisa memahaminya. 

Demikian pula untuk memahami Kurva, kita tidak perlu berstatus ahli statistik. Keperluan status sebagai ahli statistik adalah pada penyusunan dan eksekusi metode QC. Terutama penentuan sampel. Ketika sudah sampai pada hasil (Kurva), maka urusannya menjadi bersama siapa pun yang paham Aljabar (diajarkan pada tingkat Sekolah Dasar).


Mathematical Error –nya begini: pada data-masuk 17%, Nominal suara untuk Prabowo adalah 58,08% x 17% x Acuan Nominal. Berapakah Acuan Nominal? Tergantung angka DPT dari KPU. Mari kita ambil acuan 190 juta (angka berapa pun bisa, tergantung DPT). Jumlah Nominal suara Prabowo-Hatta adalah 18,75984 juta. Ada pun Joko-JK adalah 41,92% x 17% x 190 juta = 13,54016 juta suara.


Apa yang terjadi pada data-masuk selanjutnya (18%)? Nominal Prabowo-Hatta adalah 54,06% x 18% x 190 juta = 18,48852 (!). Ini jelas Error. Jika sebelumnya Prabowo-Hatta telah mencapai proyeksi 18,75984 juta, kok bisa turun menjadi 18,48852 juta? 

Ke mana selisihnya yang sebesar 0,27132 juta suara? Ternyata, selisih yang hilang ini “dialokasikan” ke Joko-JK. Coba lihat, suaranya pada titik data-masuk 18% adalah: 45,94% x 18% x 190 juta = 15,71148 juta. 

Mungkinkah melonjak sebanyak 2,17132 juta dibanding Nominal sebelumnya? Jawabannya secara matematis adalah TIDAK BISA. Mengapa? 1% data-masuk mewakili 1% x 190 juta = 1,9 juta suara. 

Jika pun semua suara itu memilih Joko-JK, maka mustahil lonjakan suara Joko-JK sampai 2,17132 juta. Coba kita kurangkan angka ini dengan 1,9 juta. Anda akan mendapati angka 0,27132 juta. Persis dengan suara Prabowo yang “hilang”.

Dapat disimpulkan pada QC di atas telah terjadi MANIPULASI. Sehingga, hasil akhir-nya tidak dapat dijadikan Acuan.

Sebelum titik Manipulasi (data-masuk 17% dan ke bawahnya), Proyeksi suara masih dapat dijadikan acuan. Hingga 340 sampel TPS, Prabowo-Hatta unggul 58,08%. 

Di mana gerangan wilayah kemenangan itu? Mudah memproyeksinya. Menurut IPI (lihat dan hitung pada http://www.indikator.co.id/pilpres2014/analisa.php), untuk Kawasan WIT dan WITA mereka menarik sampel sebanyak 396 sampel dengan data yang berhasil masuk 390. 

Dapat disimpulkan bahwa Prabowo-Hatta diproyeksi mendominasi perolehan suara di Kawasan Tengah dan Timur Indonesia. Anehnya, jejak Proyeksi ini “sirna” dalam Rekap KPU. Prabowo-Hatta menurut KPU kalah di kawasan-kawasan tersebut. 

Padahal, petinggi IPI sendiri mengatakan: jika Rekap KPU meleset dari proyeksi QC mereka berarti KPU salah.

Kita berharap, kebenaran terungkap dalam rangkaian sidang Mahkamah Konstitusi yang akan dimulai beberapa saat lagi.

***REWAKO! Relawan Komando Prabowo

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)