Thursday, 3 July 2014

Kepemimpinan Kolektif Kolegial: Pilihan di 9 Juli 2014 Prabowo Subianto

Kepemimpinan Kolektif Kolegial: Pilihan di 9 Juli 2014 Prabowo Subianto

source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152158768106179&set=a.60019411178.82664.23383061178&type=1



Assalamualaikum. Selamat sore sahabat. Selamat berbuka puasa bagi sahabat yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Tidak terasa pemilihan tinggal 6 hari lagi. Dalam sisa masa kampanye yang ada mari kita teruskan kampanye santun. Selalu berkata baik dan berbuat baik. Kita bersaing dengan saudara-saudara kita dalam gagasan, nilai, keyakinan akan masa depan bangsa.

Walau bersaing, saudara Joko Widodo dan bapak Jusuf Kalla adalah saudara kita. Jika diberikan mandat oleh rakyat pada 9 Juli nanti, saya ingin bangun bangsa bersama mereka. Jika saya terpilih menjadi presiden, bantuan apa yang saudara Joko butuhkan sebagai Gubernur untuk membangun Ibukota pasti saya berikan.

Sahabat, birokrasi kita harus terdiri dari the best & the brightest. Presiden tidak kerja sendiri. Harus dibantu Gubernur, Walikota, Bupati terbaik. Karena itu, sahabat dapat melihat: Sejarah telah mencatat bagaimana saya telah menggunakan partai politik saya untuk menseleksi dan mendorong orang-orang baik untuk menjadi Gubernur, Walikota, dan Bupati.

Pada waktunya nanti, jika diberikan mandat saya juga berniat untuk susun kabinet yang terdiri dari putera dan puteri terbaik bangsa. Saya akan undang putera dan puteri terbaik untuk perkuat kabinet. Tidak jadi soal apakah mereka anggota partai koalisi atau non-partai.



Menurut saya, konsep kepemimpinan yang terbaik bagi bangsa Indonesia adalah kepemimpinan kolektif yang kolegial. Suatu konsep kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan nasional.

Di sini saya menyebut contoh Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln. Begitu memenangi pemilihan presiden, Lincoln justru mengajak William H Seward, rival politiknya yang paling keras—yang sudah berhadapan dengannya selama bertahun-tahun—untuk bergabung sebagai Secretary of State di dalam kabinet Lincoln. Sejarah mencatat mereka bekerja bersama, memimpin dan membangun Amerika Serikat.

Sewaktu Lincoln bertanya kepada Seward apakah ia mau bergabung, Seward malah balik bertanya dengan kaget: ”Kenapa Anda memilih saya? Anda tahu saya tidak suka kepada Anda?”

Dijawab oleh Lincoln: ”Memang saya tahu Anda tidak suka saya, dan benar saya juga tidak suka Anda. Akan tetapi, saya tahu Anda cinta Amerika Serikat. Kalau demikian, kenapa kita tidak bersama-sama bekerja untuk Amerika Serikat.”



buku A Team of Rivals prabowo
Bacaan Buku seorang NEGARAWAN


Kurang lebih seperti itu dialog di antara mereka yang saya baca di dalam buku A Team of Rivals oleh ahli sejarah Doris Kearns Goodwin.

Kepemimpinan semacam ini pun diperlihatkan oleh tokoh-tokoh pemimpin Jepang semasa Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu. Pada masa Toyotomi Hideyoshi juga demikian. Rival mereka selalu diajak berunding dan bersatu untuk membangun Jepang.

Jika mendapatkan mandat untuk memimpin, kepemimpinan yang saya tawarkan adalah kepemimpinan kolektif lintas partai, lintas suku, lintas agama. Kepemimpinan yang didasarkan oleh satu kesamaan: kecintaan kepada Indonesia, kecintaan kepada rakyat Indonesia, di atas kepentingan kelompok dan pribadi.

Inilah napas saya, inilah nilai saya, inilah cita-cita saya. Demokrasi adalah nilai yang saya junjung tinggi. Inilah pilihan yang dapat saudara sekalian pilih pada tanggal 9 Juli 2014.

Terima kasih. Wassalamualaikum. Sahabatmu, Prabowo Subianto.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)