Facebook

Monday, 28 July 2014

Diar SEO NUBI - Berbicara Mengenai Produk Ekslusif



source : https://www.facebook.com/diar.seonubi?fref=nf

Pernah denger pisang goreng pasir? 

Pisang Goreng Pasir - Indonesia
Pisang Goreng Pasir - Indonesia

Pisang goreng pasir itu adalah produk sekaligus nama brand-nya. Dulu kan sempet ngetop banget, cabang dimana-mana. Mereka menawarkan waralaba dengan sistim paket yaitu konsep resto minimal 20 kursi. 

Biaya menjadi pewaralaba sekitar 20-30 juta rupiah sudah termasuk alat (tidak termasuk sewa tempat), maka berbondong-bondong orang yang ingin menjadi pewaralaba. Setelah boom kira-kira 2 tahun lalu redup dan menghilang, karena banyak lokasi yang nggak balik modal lalu tutup. 

Menurut analisa pakar waralaba (ada organisasinya), kesalahan pisang goreng pasir (kita singkat PGP aja ya) adalah produknya terlalu pasaran, alias ada dimana-mana. Produk-produk yang terlalu mudah diperoleh maka nilai eksklusifitasnya menurun.

Bakmi GM Indonesia
Bakmi GM Indonesia

Sekarang kita bandingkan dengan bakmi GM, cabangnya ada berapa? kalo gak salah cuma 6 titik dan lokasinya di jakarta semua. Mereka membatasi pembukaan jumlah cabang baru agar cabang utamanya tetap terjaga penjualannya sehingga bisa bertahan selama berpuluh tahun bahkan usahanya bisa diwariskan ke anak cucu. Jadi, orang dari luar kota kalo mau nyobain bakmi GM ya harus ke jakarta deh.

Eksklusifitas nggak selalu bicara soal harga, tetapi berkaitan dengan jumlah produk tersebut atau kemudahan untuk memperoleh produk tersebut. Contoh lain, misalnya ada jenis mobil tertentu yang diproduksi secara terbatas. Apa bicara soal harga? ya, nggaklah. Buktinya, ada banyak orang yang bisa beli produk tersebut walaupun harganya milyaran. 

Hal yang bikin jadi eksklusif adalah keterbatasan jumlah unit yang dijual. Contoh lain tas hermes yang harganya mulai dari 150 juta, menjadi prestise bagi orang yang beli. Bukan soal harganya, tapi karena untuk mendapatkan tas hermes harus inden satu tahun sebelumnya. Kalo soal harga, jangankan 150 juta, kalo tas hermes dijual harga 1 milyar pun pasti banyak yang mampu beli. 

Justru karena harus inden itulah maka tiap tahun harga tas hermes (yang asli) naik terus, karena yg mau beli pada ngantri.

Jadi kalo mau nguber omset, gunakan 'jaringan pemasaran' misalnya afiliasi, reseller, retail, agen, dst. 

Tapi kalo pengen eksklusif, jual sendiri. Masing-masing ada kekurangan dan kelebihannya. Kalo jual sendiri, maka pemasaran, promosi dan branding-nya harus kuat.

Kayaknya gitu deh, semoga bermanfaat 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)