Friday, 18 July 2014

Canny Watae : Desepsi (Pengalihan Persepsi) Perang Informasi

Canny Watae : Desepsi (Pengalihan Persepsi) Perang Informasi


source : https://www.facebook.com/canny.watae?fref=nf
Rekans,

Ada situs ini, ada situs itu. Semuanya klaim sudah menghitung suara. Sekali lagi saya bantu ingatkan: Internet ini belantara informasi. Bahkan pemilik Google pun tak bisa tahu mana informasi yang bernilai benar, mana yang tidak. Situs yang benar-benar resmi sekali pun, sangat rentan dimasuki peretas lalu mengambil alih kendali dan memasang informasi palsu.

Pilpres ini ajang perang informasi. Sedari dulu. Hanya saja dulu itu belum ada internet, belum ada medsos. Sehingga dropping informasi hanya bersifat vertikal (dari atas, dan pelakunya wajib punya sokongan dana besar karena memang butuh duit gede untuk main informasi). 

Sekarang, keadaan sudah berubah. Informasi bersifat horizontal. Dari warga ke warga. Yang dilakukan oleh pelaku dropping informasi vertikal sekarang adalah menyebar informasi ke warga lalu berharap info tersebut tersikulasi dengan sendirinya ke sesama warga. 

Tujuannya banyak: pembentukan opini, pengacauan informasi, memberi ketidakpastian, dll. Pada saat kita semua sibuk dengan banjir bandang informasi itu, ada agenda lain yang dilakukan si penebar informasi yang luput dari amatan warga.

Jangan langsung percaya situs internet.

Bahkan media-media besar yang dulu dapat dipercaya dan diandalkan untuk kepentingan publik tanpa kecuali, pada musim Pilpres ini sedang mengabdi pada kepentingan Capres dukungan masing-masing. 

Waspada situs penebar hasil-hasil Real Count. Bisa jadi menamakan situs Prabowo, mengunggulkan Prabowo, para pendukung Prabowo Subianto menjadikannya referensi, lalu menyebarkan, lalu 1-2 hari sebelum tanggal 22 tiba-tiba membalik hasil perhitungan suara. 

Modusnya sederhana: pembaca tidak memperhatikan jumlah absolut suara. Hanya memperhatikan persentase. Padahal saat suara Prabowo dinyatakan lebih tinggi, itu saat jumlah suara absolut sengaja di-setting masih rendah. Nanti pada saatnya, perhitungan di balik dengan memasukkan suara yang disimpan untuk kemenangan lawan politik Prabowo. Demikian pula sebaliknya. Jadi waspadalah.

Mari gunakan nalar. Semua manusia dilahirkan berotak untuk bernalar. Kalau saya begini:

- Dengan mata kepala sendiri saya melihat ada Saksi dari tim Prabowo.

- Ada pula petugas kepolisian yang mencatat hasil perhitungan suara.

- Dengan belitan kasus yang secara hukum sedang ditangani di elit partainya, saya ragu pada sebagian elit PKS. Tetapi, permasalahan di tingkat elit itu sama sekali tidak membuat saya ragu pada simpatisan (apalagi kader daerah) PKS. 

Mengapa? Karena saya mengalami sendiri pertemanan dengan simpatisan dan kader PKS. Tidak ada keraguan pada diri saya atas integritas mereka dalam berjuang. Menjadi saksi di TPS adalah perjuangan bagi mereka. Apalagi jika mereka menempatkan perjuangan menjadi saksi itu sebagai ibadah. 

-Ada yang meragukan hasil perhitungan PKS karena membandingkannya dengan Quick Count versi PKS saat Pemilu Legislatif lalu. PKS menghitung mendapat 10% suara nasional, tetapi kenyataannya hanya di kisaran 7%. Ini dijadikan argumentasi bahwa PKS tidak bisa dijadikan patokan untuk hitung Pilpres. 

Kenyataannya adalah: QC PKS saat Pilleg tentu memiliki nilai toleransi kesalahan (Margin of Error). Jika MOE-nya 3%, berarti QC PKS itu tidak salah. Kedua, saya mendengar sendiri dari seorang kawan yang menjadi Caleg, bahwa permainan suara sangat masif di berbagai tingkat penghitungan suara. Bahkan dalam internal partai pun, antar Caleg pada nomor urut berdekatan saling makan suara. Nah, ini sedikit banyak memporakporandakan semua hasil QC saat itu.

- Rekap suara Pilpres versi PKS itu dikabarkan palsu karena sudah pernah diberitakan pada salah satu situs berita 4 hari sebelum hari H pencoblosan. Kabar itu segera merebak secara horizontal. Selidik punya selidik, ternyata situs yang pertama kali memberitakan hal itu telah secara sengaja meng-upload berita dengan tulisan tanggal 5 Juli 2014, padahal upload-nya setelah tanggal 9. 

Penelusuran archive di internet membuktikan file berita itu memang di-upload setelah tanggal 9 (tepatnya tanggal 10 Juli). Salah satu yang ikut menyebarkan berita palsu itu adalah elit lembaga survey yang tidak mengunggulkan Prabowo-Hatta.

- Saat PKS menyatakan data mereka berada pada angka 400-an ribu TPS, tim Joko Widodo masih ke lapangan untuk mengumpulkan data. 

- Perhitungan suara dengan Semesta Data 470-an ribu hanya bisa dilakukan secara cepat ketika pengambilan foto data suara dibarengi dengan pencatatan angka suara secara pengetikan manual. Angka yang muncul dari pengetikan manual itu sekilas hanya pekerjaan sepele. 

Tetapi, saat diperhadapkan pada 470-an ribu data dalam bentuk foto atau scan, maka data angka ketik manual itu langsung memberikan jalan pintas tuan Microsoft Excel untuk berkomputasi menghitung angka demi angka.

- Sekali lagi, waspadai pemalsuan fakta yang dibungkus dalam berita. Kita semua sudah melihat adanya penyebaran fakta palsu kemenangan salah satu Capres di Malaysia, ternyata hasilnya adalah sebaliknya. Demikian pula di Saudi Arabia, kenyataan adalah sebaliknya. 

Pada masa kampanye beredar informasi via medsos ada staff lembaga survey yang digantung di dekat kantornya ternyata berita palsu. Berita Dubes Palestina mendukung salah satu Capres, ternyata palsu dan dilakukan dengan cara kriminal membajak situs kantor berita resmi negara Antara. 

Sekarang ini pun ditiup-tiupkan wacana bahwa Golkar mulai beralih dukungan, Koalisi Merah Putih tidak bertahan lama, kabar-kabar yang mendiskreditkan lembaga survey yang mengunggulkan Prabowo, dll, dll... hati-hati dengan Desepsi (pengalihan persepsi) oleh pihak-pihak tertentu. 

Terlalu masif dan sangat kasat mata upaya membuat penghitungan suara Pilpres menjadi kacau. Sementara tanggal 22 kian mendekat.

Demikian, semoga tidak bosan membaca status panjang ini.
Salam. 

***REWAKO! Relawan Komando Prabowo

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)