Wednesday, 9 July 2014

Apa Yang Nanik S Deyang Tahu [Kongkalikong PEMRED Benci Prabowo Subianto]

Apa Yang Nanik S Deyang Tahu [Kongkalikong PEMRED Benci Prabowo Subianto]


source : https://www.facebook.com/wiwit.s.handayani?fref=ts

Nanik Deyang:

Saya heran dengan pemberitaan yg berkembang, Prabowo ngamuk media di rumahnya. Saya yg menyaksikan melihat, memang kedzoliman media itu luar biasa, dan gak takut dosa baik wartawan atau pemiliknya. Cerita seperti ini, usai mencoblos saking banyaknya wartawan yg ingin meliput, Prabowo minta di wawancarai di rumahnya. "Di sini panas, di rumah saja " katanya diantara kerumunan rakyat.

Kemudian Prabowo berjalan kaki dari TPS untuk menyalami rakyat yg mengelu-elukan, sambil terus diburu dan ditanyai wartawan... bahkan saat di depan gerbang rumahnya ada wartawan nongkrong, dia turun untuk menyalaminya. Sebetulnya Tim Sukses dan para ajudan menyarankan Prabowo untuk tidak membolehkan masuk ratusan wartawan itu, karena posisi Prabowo sudah kelelahan. Tapi justru Prabowo bilang suruh masuk saja ke rumahnya, dan byuuurrrrrr... ratusan orang wartawan dari berbagai media menyerbu masuk ke rumahnya.

Prabowo sempat bertanya, apakah ada yg tidak puasa, kalau tdk puasa boleh ambil minum. "Tolong disediakan minum yg tdk puasa," kata Prabowo pada staf-stafnya, sambil berpesan kalau ada makanan, untuk yg tdk puasa diminta diberikan makan. Lalu semua yg mau wawancara terutama TV di data, dan ternyata ada 24 TV... 


Pak Prabowo juga melayani, saat masing-masing minta waktu sendiri-sendiri, dan ke-24 TV itu kemudian mencari tempat masing-masing di sekitar rumah Pak Prabowo. Sekedar informasi dari malam Pak PS itu tdk tidur lho, karena nonton bola diteruskan rapat, kemudian langsung ke TPS, jadi bisa dibayangkan seperti apa lelahnya. 


james riadi
Ini Orang Indonesia tapi punya misi kepentingan asing di Indonesia
Setelah beberapa TV selesai mensetting peralatannya, dimulailah secarai bergantian pak Prabowo menghampiri masing-masing TV. Dimulai wawancara dengan TVRI, ANTV, RCTI... kemudian Berita Satu.... 

Nah saat melihat Crew Berita Satu, Pak PS, mulai memprotes tapi masih dalam kapasitas becanda..." Waduh sy layani gak ya Berita Satu. Kan ini TV yg selama ini terus nyerang saya. Masak Pak Tanri Abeng wawancara saya satu jam, katanya tidak boleh dinaikkan." katanya sambil tersenyum.... Selanjutnya Pak PS mengeluhkan semua media milik JAMES RIYADI yg selama ini semena-mena ini. 

"Ingat lho ya kalau terus menyakiti orang yang tidak salah kuwalat lho. Saya tau memang kalian tidak salah, kalian hanya petugas, pemilik media kalian yg bersikap seperti itu...tapi ya sudahlah saya layani," kata Prabowo yg akhirnya melayani TV Berita Satu.

chairul tandjung antek china
Ini orang Indonesia, tapi hatinya busuk sekali terhadap Prabowo


Kemudian Prabowo meneruskan wawancara dengan TV lain, nah pas masuk sampai giliran Metro, tiba-tiba Megasimarmata, wartawan senior yg sering nulis Pak PS, mengarahkan PS untuk melayani CNN yg sudah menunggu di dalam pendopo rumah PAk PS. 


Eh wartawan Metro yg kecewa memburu Pak PS yg sudah siap-siap akan wawancara dengan CNN...Pak PS tidak dalam posisi marah, dia malah ngomong ke wartawan Metro.."Lho ngapain Metro wawancara saya...kalian kan selama ini terus menjelekkan saya," kata Pak PS. Kemudian seperti curhat dia menyebut selama ini media-media yg terus mendiskreditkan dia, seperti Kompas, Grup Berita Satu milik Muhtar Riyadi, Metro dan Grup Trans (termasuk detik) milik Pengusaha Chairul Tanjung.

Ini orang asli Indonesia, tapi perangainya sangat tidak beretika
Memberitakan kebohongan berlapis-lapis dengan kekuasaan medianya Metro TV
"Saya ini salahnya apa dengan bos-bos kalian, salah saya apa? Tolong tanya pada Pak Surya Paloh, salah saya apa? Saya merasa dalam hidup sy tdk pernah menyakiti dia, mengapa dia menyakiti saya," kata Pak PS...yg terus bicara dan mempertanyakan sikap media yg selama ini terus menyudutkannya, dan memfitnahnya.
Ini orang indonesia,  kotoran pikirannya sudah meledak-ledak dalam nafasnya
Mengapa kau membenci Prabowo Subianto pak tua?


"Tanyakan juga dong sama Gunawan Muhamad, apa salah saya, saya pengin bertemu untuk menanyakan" katanya.


Kemudian wartawan menggerombol, Pak PS terus mengeluh dan curhat terhadap sikap media yg menyudutkannya, termasuk grup SCTV dan Indosiar milik Edy Sariatmadja, konglomerat yg juga pendukung Jokowi. 



ini orang Indonesia, sudah tenggelam dengan duit hingga lupa akal sehatnya


Saya sebagai mantan wartawan, melihat apa yg disampaikan Pak PS adalah suatu kewajaran, memprotes media yg selama ini terus menyudutkannya. Termasuk grupnya
Kompas. Saya tidak menyangka kalau protes dan curhat Pak PS kemudian dijadikan berita oleh Tribun.com (grupnya Kompas) sebagai bentuk "NGAMUK" Pak PS.


Demikian juga Tempo dan media-media yg selama ini menyudutkan Pak PS, semua makin ramai-ramai membully Pak PS.

Saya sebagai mantan wartawan, dulu waktu sy jadi wartawan yg namanya di protes, di somasi, di usir dll sudah biasa saya jalani, dan saya biasa saja, paling sikap saya ketawa-tawa. Dimana ada nara sumber kadang merasa puas, dan kadang tidak puas...tapi yg harus di ingat kita ini (kalau jadi wartawan) kan sampai kapanpun, bahkan tiap hari kan pasti berhubungan dengan nara sumber. Kalau setiap hari kita musuhi nara sumber, maka yg ada kita gak pernah dapat berita yg baik.

Kalau Mau Berita terbaru tercepat berimbang mengenai Prabowo Subianto
Following https://twitter.com/MegaSimarmata
Jangan pilih media jongos!

Dalam kasus kemarin di Hambalang, sungguh saya mengelus dada, saya kira curhat Pak PS itu tidak dijadikan berita, ternyata menjadi berita dengan judul atau angle "PRABOWO NGAMUK ke MEDIA"...terlepas dari sy dekat Pak PS, saya hanya mau bilang, betapa beratnya hidup Pak PS, tidak menjawab salah, menjawab juga di pelintir, dan saat wartawan itu dianggap teman dan dicurhati malah dijadikan berita "ngamuk"......

Saya juga heran dengan para wartawan-wartawan itu, media mereka dan mereka selama ini terus menyudutkan Pak PS, namun sedikit saja mereka dikritik atau diprotes, langsung melakukan serangan balik. 



tipu tipu media indonesia
Ketika Konglomerat Media menjadi bagian dari konspirasi kejahatan terhadap fakta kebenaran


Saya juga heran mereka wartawan yg medianya selama ini menyudutkan Pak PS, tiap hari memburu berita pak PS, tapi bukan untuk menyampikan kebenaran, tapi hanya mencari-cari kesalahan Pak PS, kemudian menjadikannya bahan berita.

Tirani media yg di miliki konglomerat itu memang luar biasa, Pak PS pun terinjak habis oleh kekuatan mereka dalam membentuk opini publik. Namun sebagai manusia saya percaya, bahwa di atas langit ada langit...andai kata toh Pak PS tidk menjadi Presiden, saya rasa beliau masih bisa hidup apa adanya, tapi para pemilik media, bagaimana bila suatu saat media itu ditinggalkan penonton atau pembacanya? 


Demikian juga para wartawan, apakah memang kepuasan seorang wartawan itu bila bisa "tertawa-tawa" di atas penderitaan nara sumbernya? Hati-hati, bila dengan profesi wartawan itu semua bisa kebal terhadap hukum, maka sebagai manusia kita tdk akan kebal terhadap hukum Allah SWT.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)