Facebook

Thursday, 22 May 2014

HIKMAH : Kisah Lalat dan Semut

HIKMAH : Kisah Lalat dan Semut


Evaluasi Usaha Anda terus menerus

Berapa banyak diantara kita yang sudah berusaha, tapi lupa meminta petunjuk dari yang diatas?
Berapa banyak diantara kita yang lupa bahwa, kita tidak sendirian di dunia ini?
Berapa banyak diantara kita yang sering berpikir bahwa kita sendiri yang membuat masalah menjadi berat?
Berapa banyak diantara kita yang terpikir bahwa ini salah dan harus diperbaiki segera?
Berapa banyak diantara kita malu dengan kebodohan dirinya sendiri?
Berapa banyak diantara kita yang mau serius menyayangi diri sendiri?
Berapa banyak diantara kita yang masih peduli bahwa dia salah dan harus segera dibantu?

Simak Kisah Hikmah dibawah ini


~ Kita Bukan Lalat itu ~

Abah Muda Nuridzaty sedang berbincang bersama Pemuda Pemudi di sekitar tempat tinggal Abah sambil minum kopi di sebuah sore di Pendopo Agung.
Anak Muda : “Abah, kok kami ini sering galau, risau dan gelisah….dalam melakukan suatu pekerjaan saya sering gagal dan putus asa….” Cerita Anak Muda
Abah : “ Sebagai anak muda memang kalian perlu banyak duduk bersama senior-senior dan orang tua kalian untuk berdiskusi pengalaman-pengalaman hidup…" satu pesan Abah : "Jangan memelihara sifat sombong dalam hatimu karena bila ada sifat itu dalam hatimu maka kalian akan sulit mendengar dan menerima pendapat atau nasehat dari orang lain…” Nasehat dari Abah
Anak Muda : “ Iya, Bah. Saya sering tidak mau tersaingi oleh orang lain. Kalo sudah begitu, saya tidak simpati terhadap orang tersebut….? “ jelas Anak Muda
Abah : “ Jangan kamu pelihara sifat seperti itu, karena kebaikan itu bisa saja datang dari mana saja….bisa datang dari orang tua, orang sebaya kamu, orang yang lebih muda dari kamu. Mulai sekarang buang sifat itu jauh-jauh bila ingin dirimu itu bersih.”
“ Kalian perlu belajar dari kisah Hikmah yang Abah sampaikan ini “ Abah menerangkan dengan suara yang lembah lembut.
“ Ada Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah. Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.”
“Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

“ Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.”
“Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.”
“Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?” “Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. 

"Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.”

“Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?”

“Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.” Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini.”

“ Teruslah berjuang untuk kehidupan masa depan kalian yang lebih baik. Rajin silaturrahim dengan berbagai kalangan agar bervariasi referensi ilmu kehidupan kita sehingga kita dapat melakukan usaha-usaha manusiawi kita dengan beraneka macam cara yang baik. Dan usaha itu kita genapi dengan doa dan tawakal kepada Allah SWT “ Abah mengakhiri pembicaraannya

Anak Muda : “ Terima kasih, Abah….Abah telah menyadarkan ketidak pahaman kami,,,,kami mengutamakan ego kami dalam kehidupan kami,,,,Terima kasih sekali lagi, Abah…” Anak Muda itu sambil mencium tangan Abah.
--
Smoga Hikmah dari kisah ini bisa kita dapatkan dan langsung kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari kita, Jangan tunggu lagi untuk berubah, ubahlah dari pola pikir anda sekarang, lalu perbaiki kebiasaan anda sekarang, lalu perbaiki orang terdekat dengan anda sekarang, lihatlah sudah banyak perubahan yang telah anda ubah dalam sekejab.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)