Thursday, 6 July 2017

BISNIS PANGAN COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Sebelum Era Jokowi.

Business pangan adalah business yang akrab dengan politik. Henry Kissinger pada tahu 1970 pernah berkata "Control oil and you control nations; control food and you control the people".

Dalam system kapitalis pengendalian terhadap minyak dan pangan adalah segala galanya.

Dibidang pangan, Pengusaha domestik dan international saling terkait untuk menciptakan pasar yang oligopolistis. Di pasar internasional terdapat empat pedagang besar yang disebut ABCD, yaitu Acher Daniels Midland (ADM), Bunge, Cargill, dan Louis Dreyfus. 

Mereka menguasai sekitar 90% perdagangan serealia atau biji-bijian dunia. Di pasar domestik. Importir kedelai hanya ada tiga, yakni PT Teluk Intan (menggunakan PT Gerbang Cahaya Utama), PT Sungai Budi, dan PT Cargill.

Sementara itu, empat produsen gula rafinasi terbesar menguasai 65% pangsa pasar gula rafinasi dan 63% pangsa pasar gula putih. Kartel juga terjadi pada industri gula rafinas yang memperoleh izin impor raw sugar (gula mentah) 3 juta ton setahun yang dikuasai delapan produsen .

Untuk distribusi gula di dalam negeri 70% dikuasai oleh PT Angels Products, PT Citra Gemini Mulia, PT Duta Sumber Internasional, PT Sarana Manis Multi Pangan, PT Manis Rafinasi, PT Sari Agrotama Persada, PT Sentra Utama Jaya, dan PT Mega Sumber Industri.

Itulah bukti bahwa Mafia dalam perdangangan komoditas pangan memang ada.

PELUANG SKEMA PEMBIAYAAN LISTRIK INDONESIA COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Bisnis Pembangkit Listrik

PLN mendapat tugas dari pemerintah menyediakan listrik untuk seluruh rumah tangga di Indonesia. Namun karena keterbatasan dana maka solusi yang di tempuh adalah melalui PPP ( Public Private Partnership).

Dengan skema PPP ini pemerintah melalui PLN memberikan peluang bagi dunia usaha untuk terlibat dalam pembangunan pembangkit listrik ( power Plants).

Peluang bisnis ini luas sekali karena target yang belum direalisir masih sangat besar.

Bagaimana hubungan bisnis antara PLN dan dunia usaha? 

PLN hanya sebagai pembeli listrik dan dunia usaha sebagai investor yang membangun pembangkit listrik. Resiko investasi ada pada investor. Pembelian listrik sesuai dengan Power Purchase Agreement dengan tarif yang ditentukan pemerintah. Jadi kekuatan business ini adalah konsesi yang di berikan PLN kepada investor dengan jaminan cash flow dari PLN sebagai pembeli.

Bagaimana sumber pembiayaannya?

Bagaimana bila mendapatkan sumber pembiayaan secara konvensional dari bank? Akan sangat sulit karena terbentur dengan collateral yang harus anda sediakan terlebih dahulu. Biasanya collateral 110 % dari nilai proyek. 

Martua Sitorus COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)


Ketika harga sawit jatuh , ketika pemerintah Jokowi mengeluarkan issue moratorium Kebun Sawit, semua pengusaha mengeluh. Apalagi dengan penerapan pajak ekspor CPO. Tapi Martua Sitorus sebagai pengusaha dia tidak mengeluh. Kebijakan pemerintah dan situasi pasar global disiasatinya dengan bijak dan berani.

Caranya ?

1. Harga CPO akan turun dipermainkan pasar sudah di prediskinya. Maka dia sudah jauh hari membangun industri dowstream CPO. Dari oleo chemical, oleo food ( ethyl ester, Fatty acid, dan glycerine) sebagai bahan baku ,seperti industri pangan (minyak goreng dan margarin), industry sabun (bahan penghasil busa), industri baja (bahan pelumas), industri tekstil, kosmetik, dan sebagai bahan bakar alternatif (biodisel).

Pabriknya yang berjumlah 250 unit tersebar di 20 negara termasuk China. Ketika semua pengusaha sawit hidup segan mati tak mau karena harga CPO jatuh, justru Martua semakin melenggang sebagai pengusaha sawit tanpa saingan. Karena dia menguasai dari upstream sampai dengan downstream.

Tuesday, 20 June 2017

ANALISA KASUS PEMBIAYAAN LION COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)


Anda mungkin sering mendengar istilah KONDOTEL. Pihak developer menawarkan kondominium kepada anda sebagai wahana investasi. Apabila anda setuju invest maka pada waktu bersamaan kondominium itu anda serahkan kepada developer untuk dikelola sebagai Kondotel.

Di samping itu anda bisa juga gunakan kondotel itu untuk berlibur dan bisa juga dapatkan income bila tidak sedang di gunakan. Berlalunya waktu anda mendapatkan revenue dari kondotel tersebut, sementara asset tetap atas nama anda sampai kapanpun.

Kalau suatu saat anda butuh uang, anda berhak untuk menjualnya dengan harga pasar. Yang menarik adalah selalu harga beli selalu lebih murah dari harga pasar. Jadi bagaimanapun tetap untung. Jadi anda dapat revenue dari pengelolaan Kondotel dan juga dapat untung ketika di jual.

Developer dapat apa ? 

Mereka dapat bagi hasil atas hak kelola kondotel dan juga dapat fee bila anda menjual kondotel.

Begitu juga dengan kasus pembiayaan pembelian pesawat yang di lakukan oleh LIon Air.

Bagaimana skemanya?

1. Sebagai perusahaan pemilik izin operasi penerbangan, Lion menawarkan kerjsama investasi kepada investor. Investor itu bukan satu tapi beberapa investor. Yang ditawarkan oleh Lion adalah

A. Harga pesawat lebih murah dibandingkan beli dari agent.

Kok bisa ? 

Ya karena Lion beli banyak tentu dengan harga pabrik dan belinya langsung ke prinsipal.

B. Pada waktu bersamaan Lion juga tawarkan jasa kelola pesawat tersebut dengan kondisi yang disepakati bersama. Jadi semacam sales and leaseback.

Bagaimana investor bisa percaya ? 

Analogi Lion Air Bang Bonar COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Babo analogikan saja saya. Ada Bang Bonar, dia dapat izin trayek taksi Jakarta Bandung. Dia engga ada uang untuk beli banyak taksi. Mau beli cara leasing jumlahnya terbatas dia dapat dan lagi bunganya selangit.

Lantas gimana caranya bang Bonar dapatkan kendaraan. Dia akan tawarkan kepada siapa saja yang punya uang untuk invest di perusahaan taksinya. Dia tidak suruh orang beli sahamnya. Tapi orang hanya berhak atas kendaraan yang diinvest.

Contoh kalau orang invest satu kendaraan maka dia berhak atas asset dari kendaraan itu.

Lantas mengapa orang tertariik invest ? 

Karena bang Bonar tawarkan harga diskon atas kendaraan.

Kok bisa diskon? 

Kan bang bonar belinya banyak dan langsung di pabrik. Contoh kalau harga kendaraan di show room Rp. 200 juta, tapi dengan bang Bonar , harga invest hanya Rp. 150 juta.

Monday, 19 June 2017

NEWMONT COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Berdasarkan UU, Pemda tidak boleh berhutang tanpa izin menteri keuangan dan kalaupun diizinkan tidak boleh memberikan jaminan atas hutang tersebut. Nah, siapa yang bisa memberikan pinjaman tersebut kepada PEMDA.

Conventional way untuk mendapatkan dana pembelian saham ini jelas tertutup karena tidak ada bank yang mau memberikan pinjaman tanpa ada Collateral.

Lantas bagaimana Pemda mendapatkan dana itu? 

Seorang pengusaha menawarkan diri sebagai investor. Pengusaha ini memberikan solusi too good to true; Tidak perlu ada jaminan.Tidak perlu ada credit rating record. 

Caranya bagaimana?

Pengusaha ini mengusulkan agar Pemda membentuk BUMD yang berdasarkan Perda bertugas melaksanakan pembiayaan divestasi. Selanjutnya Pengusaha membentuk satu perusahaan yang akan bertindak sebagai shadow banking. Shadow banking inilah yang akan membentuk perusahaan patungan dengan BUMD.

Didalam perusahaan patungan ini pengusaha melalui shadow banking menguasai saham 75% dan BUMD 25%. Apakah pengusaha itu membiayai dari kantongnya sendiri? Tidak! Mana ada business dimana pengusaha menggunakan uangnya sendiri kecuali pedagang kelas gurem. 

Dana itu dia dapat dari menempatkan hak saham 75% yang dimilikinya sebagai trigger terbangunnya financing scheme. Jadi penguasaan mayoritas saham itu hanya karena dia membawa financial resource untuk pembiayaan pengambil alihan itu. itu saja.

SHADOW BANKING COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Tahun 2013, saya bertemu dengan teman yang sedang mengurus fundraising untuk perusahaan yang sudah listed di Bursa. Dia cerita bahwa pada saat sekarang sumber dana dari perbankan sudah sangat sulit didapat. Semua perusahaan besar sekarang berusaha mencari sumber dana alternative.

Mengapa ? 

Karena LDR bank sudah sangat tinggi. Kalau LDR ini tinggi karena prestasi bank menyalurkan dana sektor real maka itu bagus sekali. Tapi ini lebih disebabkan oleh semakin banyaknya nasabah institusi seperti Lembaga Dapen, Asuransi, yang mengalihkan dana depositonya ke Obligasi dan bagi nasabah pribadi lebih memilih penempatan dana ke Obligasi ritel seperti ORI.

Alasan mereka bahwa penempatan dana di obligasi dan ORI jauh lebih baik dari segi keamanan walau yield nya relative sama dengan bunga bank.Namun setidaknya obligasi memberikan kepastian yield dalam jangka panjang.

Walau terjadi penambahan volume penyaluran kredit dari sektor perbankan kedunia usaha namun itu tidak semuanya berhubungan dengan investasi baru tapi lebih kepada restruktur hutang dari debitur yang terancam NPL.