Facebook

Sunday, 12 August 2018

Bersikap Dalam Memilih Capres COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Orang tua saya mengajarkan saya “ Alun takilek la takalam.” Belum keliatan sudah terbaca.

Artinya kalau kita beradapan dengan orang lain, kita harus punya sense melihat dari apa sikap dan perkataannya. Seorang datang melamar sebagai direktur Pemasaran. Saya sudah punya data tentang dia sebelumnya. Tentu sudah melwati proses rekrutmen yang ketat.

Walau begitu hebat data dan rekomendasinya. Tidak otomatis membuat saya bersikap memilihnya.

Begitu pula sebaliknya. Walau data tentang orang itu tanpa ada rekomendasi dari tempat asal dia kerja namun saya tidak berprasangka buruk. Ketika bertemu, saya akan coba bersikap santai tanpa ada jarak.

Saya yakinkan pada dirinya bawa saya teman bicara yang enak.

Bagaimana anda meningkatkan penjualan? 

Itu pertanyaan awal saya setelah suasana akrab. Kalau dia menjawab lebih banyak retorika dan atas dasar pengalaman dia waktu bekerja ditempat sebelumnya serta menyalahkan kantornya yang lama, serta memuji idenya hebat.

Friday, 10 August 2018

Program Populis COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)




Indonesia akan masuk masa putaran kampanye. Kamu ingat kan, Hugo Chavez. Tubuhnya tambur, Ia mantan para militer. Ambisi kekuasaannya sangat besar.

Pada waktu masih aktif sebagai militer dia pernah mencoba melakukan kudeta tapi gagal. Pemerintah mengampuninya.



Apakah dia kapok? tidak.

Hasrat berkuasa, tak surut. Diapun bergabung dengan Partai sosialis dan akhirnya memimpin partai tersebut. Upaya militer untuk berkuasa dia hapus dari rencana. Selanjutnya dia rebut kekuasaan melalui jalur demokrasi langsung.

Hugo memang petualang sejati yang bisa membungkus dirinya menjadi malaikat demi merebut simpati rakyat miskin. Maklum, dia paham betul sumber daya MIGAS Venezuela terbesar di dunia.

Selama ini dinikmati oleh elite politik yang pro AS. Ketika berkampanye dia menuduh penguasa yang ada sekarang telah gagal memenuhi janjinya. Harga melambung tinggi. Pengangguran meningkat. Subsidi dipotong. Orang miskin semakin banyak. Negara digadaikan kepada asing. Hutang bertumpuk. TKA merampas angkatan kerja lokal. Dia komunikator ulung yang mampu menciptakan magic word merasuk ke otak rakyat yang sebesar kacang itu.

Rakyat larut dengan mimpi hidup makmur dari segala kemudahan dari calon pemimpinnya.

Thursday, 9 August 2018

Sandi dan Uang COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Sandi itu memang kaya. Saat akan mencalonkan diri sebagai Wagub DKI Jakarta, Sandiaga melaporkan harta kekayaannya pada 29 September 2016 sebesar Rp 3,8 triliun.

Namun hutangnya sebesar Rp 8.4 triliun rupiah dan 23.653.682 dollar AS. 

Berdasarkan laporan Globe Asia tahun 2017 kekayaan Sandi naik jadi USD 500 juta atau Rp.7 triliun.

Tahun 2018 turun. Ditaksir kekayaannya mencapai USD 300 juta atau sekitar Rp Rp 4,3 triliun.

Kenapa hartanya turun naik. Karena sebagian besar hartanya berupa portfolio saham yang trendnya tergantung pasar. Bagaimana dengan utangnya ? semua likuid. 

Makanya dia kemarin melaporkan ke Pengadilan bahwa dia bebas dari pailit atas tagihan utang.

Kalau dilihat harta dan utangnya memang tidak sekaya yang didengungkan.

Karena utang itu pasti uangnya dan hanya bisa turun kalau dibayar.

Wednesday, 8 August 2018

SANDI dan PDAM DKI COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Suatu hari di tahun 2015, tim advokat dari Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta (KMMSAJ) mendatangi Ahok. Mereka protes karena swastanisasi Air dimana PT PAM Lyonnaise dan PT Aetra Air Jakarta sebagai pengeloa.

Bukan hanya protes tapi mereka juga menggugat nya diera Gubernur Foke.

Dan di Era Ahok mereka inginkan sikap dari Ahok.

Dengan tegas Ahok berkata “ Saya sudah pakai meterai. Surat saya sudah 'lebih hidup' itu. Saya mau pecat semua orang PAM. Mereka main politik. Saya itu bencinya setengah mati kepada PAM. Menurut saya, orang bajingan semua," kata Ahok dengan nada suara tinggi.

Lebih jauh lagi Ahok bertekad untuk mengambil alih PAM dari PT PAM Lyonnaise dan PT Aetra Air Jakarta melalui buy back saham. Tapi kandas di DPRD karena DPRD tidak setuju alokasi anggaran untuk buy back.

Siapa Sandi ? COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Sandi Uno adalah lulusan Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude. Sandi mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00.

Karirnya sebagai professional di bidang keuangan memungkinkan dia punya jaringan perbankan dan akses sumber pembiayaan yang luas. Itu sebabnya berkat dukungan dari Edwin Soeryadjaya ( putra taipan William Suryadjaya) dia mendirikan perusahaan Penasehat investasi dan mendulang sukses mengambil alih beberapa asset yang di kuasai BPPN.

Sandi memang jago financial engineering. Ketika PT. ADARO yang dimiliki oleh Hashim sedang masuk credit recovery karena kredit macet. Sandiaga menawarkan diri sebagai konsultant untuk melakukan recovery. Hashim setuju.

Namun apa yang terjadi kemudian? 

Dengan data tentang keadaan Hashim, Sandi bekerja sama dengan Bank Mandiri untuk ambil bagian dari proses akuisisi ADARO melalui skema arbitrase.

Monday, 30 July 2018

Focus Kepada Esensi Bisnis COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)




Pernah tahun 1987 saya punya Pabrik Corrugated Boxes. Waktu itu usia saya masih 23 tahun. Saya bermitra dengan teman korea sebagai mitra venture saya. Walau pabrik ini produksinya adalah kotak karton untuk kemasan barang ekspor namun bisnis nya adalah job order service.

Setahun pabrik berdiri, omzet meningkat, pabrik kerja 3 shift tapi saya tidak bisa meraih laba.

Bahkan karyawan bagian Customer Servis saya sering nangis karena komplain dari pelanggan akibat delivery yang telat dan size ukuran box tidak tepat, banyak lagi keluhan. Kadang dengan hujatan. Saya panik. Bingung bagaimana solusinya.

Kemudian saya memanggil konsultan management. Setelah audit selesai, konsultan itu merekomendasikan agar 60% karyawan saya di PHK dengan pesangon. Dari 10 suplier, 6 di delisting. Semua Buyer saya di evaluasi. Hasilnya lebih separuh buyer saya harus di removed. 

Saya bingung. Apa apaan ini?

Dengan tenang konsultan itu bertanya kapada saya “ siapa rekanan anda itu semua ?

“ Semua mereka adalah teman saya” kata saya dengan percaya diri.

Friday, 13 July 2018

Proses akuisisi saham Freeport Indonesia COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)




Jika mengikuti ketentuan kontrak karya (KK) 1991, di 2011 RI semestinya sudah menguasai 51% saham PTFI. Tetapi SBY engga berani menghadapi Freeport.

Makanya proses divestasi gagal. Nah kebetulan, tahun 2013 FI sedang dilanda krisis keuangan akibat hutang dari Business oil and gas. Tahun 2014 sahamnya terus turun di bursa. Dan meraka mendapat peluang untuk fundraising dari ekspansi bisnis tambang di Indonesia.

Ekspansi ini disetujui oleh konsorsium bank.

Mengapa? Karena memastikan FI mendapat perpanjangan kontrak selama 10x2 tahun.

Sehingga portofolio FI dalam neraca konsolidasi FcMoran semakin ada kepastian nilai.

Dan benarlah FCMoran focus memperpanjang KK melalui lobi dengan Pemerintah Indonesia.

Namun hanya beberapa bulan setelah MOU ditanda tangani era SBY, Jokowi berkuasa. Jokowi menolak secara halus MOU itu.

Nah disinilah kehebatan tim Jokowi menyelesaikan masalah FI.

Jokowi sadar bahwa pemerintah menjamin kesepakatan perpanjangan kontrak yang tertuang dalam memorandum of understanding (MoU) yang diteken semasa Pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudyono.

Perjanjian ini menjadi bagian tak terpisahkan, mengikat dua belah pihak Indonesia dan Freeport dan merupakan bagian dari amandemen kontrak. Kalau pemerintah Jokowi menolak memperpanjang, 3 tahun (tahun 2021) kemudian KK tetap berlaku sampai 2041 sesuai MOU itu.

Kalau pemerintah tetap ngotot maka dipastikan akan kalah di Mahkamah international.

Karenanya negosiasi tidak lagi berkaitan dengan perpanjang KK tapi bagaimana memaksa Freeport mengakhiri generasi KK menjadi IUPK dan mematuhi ketentuan mengenai divestasi serta kewajiban membangun smelter.

Karenanya Jokowi tidak menggunakan pendekatan kekuasaan dan hukum.

Karena kalau itu diterapkan akan menaikan citra FI dan menjatuhkan citra Indonesia di mata international. Dan bukan tidak mungkin memberikan jalan excuse bagi FI keluar dari tekanan hutang melalui reschedule. Kalau ini terjadi nafas FI semakin panjang. Pertarungan semakin berat.